photo by : pinterest
Setiap pagi, ia bangun pagi
Setiap pukul empat ia terbangun dari lelapnya tidur
Kemudian ia bangun karena terkejut dengan suara jam wekker yang ia stelnya
Lalu ia merapikan kamar tidur lalu mandi
Empat puluh lima menit ia merapikan diri, kemudian berangkat pergi
Dengan sepeda motor, melaju kencang. Kecepatan delapan puluh kilometer perjam
Riuh suara klakson ia tahan sampai kupingnya pengang
Kemeja rapihnya sudah tampak kumal, wanginya sudah bercampur asap kendaraan
Sesampainya di kantor, langsung ia menyeduh kopi
Agar pikiran tenang katanya
Tak lama kemudian, langsung ia menghadap ke layar monitor berjam-jam
Bosnya datang, ia langsung sibuk tak karuan
Berjam-jam ia bekerja tak pernah henti, tubuh gempalnya mulai seperti robot
Tidak ada istirahat, kini ia harus kerja rodi
Pulang kerja jam tujuhmalam
Sesampainya dirumah ia mandi dan berbaring di kasur yang menurutnya empuk
Padahal, hanya sehelai kain seprei yang ia lapisi agar tampak tebal
Ia tertidur, menatap atap
Demi sebuah harapan dan impian, dirinya rela menjadi kuli
Hanya Tuhan yang bisa mendengar keluh kesahnya setiap ia berdoa
Mengharap impian dapat di RidhoiNya
Terkadang ia membayangkan ada pangeran yang datang untuk meminangnya
Semua harap dan impian, hanya ia ucapakan dan utarakan dalam Doa
Semoga Tuhan selalu mendengar dan mengabulkan.
-Perempuan Pengejar Mimpi-
Minggu, 17 Juli 2016
Kamis, 07 Juli 2016
Pendakian pertama, Gunung Pulosari Pandeglang
Waktu itu, liburan sekolah semester
dua setelah aku berulang tahun, tahun 2010 tepatnya. Tanggal 20 desember kami
(Pras, Ade, Novan dan aku) berencana pergi mendaki ke gunung Pulosari di
kampung halaman Ade. Aku yang masih belum tahu tentang dunia pendakian pun
hanya ikut saja apa kata mereka. Yang lebih paham masalah ini adalah Pras.
Karena ia pernah mengikuti kegiatan Pramuka secara rutin, dan kami pikir memang
ialah yang mengerti masalah ini.
Waktu itu aku belum memiliki
perlengkapan sama sekali, aku pikir hanya bermodal nekat, waktu itu pula aku
hanya memiliki sendal gunung hasil tabunganku yang aku kumpulkan di Pras. Bermodalkan
ransel seadanya akupun langsung izin dengan ibuku kalau aku mau mendaki gunung
di pandeglang.
Setelah pamit izin, aku langsung
ketemuan dengan Ade, Pras dan Novan di balaraja. iya kami berangkat menggunakan
motor ke pandeglang. Cuaca pada saat itu sangat mendukung kami untuk berangkat.
Cerah sekali dan tidak ada tanda-tanda mau hujan.
Perjalanan dari Balaraja –
Pandeglang kurang lebih menghabiskan waktu 2 – 3 jam. Dan kami langsung menuju
rumah uwa’nya Ade yang berdekatan dengan gunung pulosari. Kami bermalam satu
hari disana, menikmati indahnya pemandangan di halaman belakang rumah uwa’nya
Ade dan berkeliling melihat-lihat desa.
Malam hari sebelum kami berangkat.
Pras, Ade dan Novan mengemas ulang perlengkapan dan juga persiapan yang harus
kami bawa nanti. Waktu itu perlengkapan yang kami bawa juga bukan milik kami,
melainkan hasil pinjaman dari sekolahnya Pras, Ade dan Novan dan beberapa alat
hasil pinjaman kakak sepupunya Novan. Semua barang sudah di packing dengan rapih,
hanya saja ada beberapa perlengkapan yang harus kami tenteng seperti kompor
portable dan tenda.
Ke esokan harinya, setelah sholat
Dzuhur kami langsung berangkat. Untuk menuju camp Pulosari membutuhkan waktu
15menit dari rumah uwa’nya Ade. Waktu itu kami diantar menggunakan motor dengan
saudaranya Ade’ jadi menghemat waktu dan juga tenaga kami hehehe. Uwa’nya Ade
juga bilang “nanti ikutin aja jalannya, hati-hati ya disana banyak pacet”
katanya begitu. Kami hanya mengiyakan apa saja nasehat uwa’nya Ade waktu itu.
kami juga tidak berani macam-macam karena ini adalah perjalanan pertama kami.
Mungkin Pras sudah pernah waktu Pramuka dulu.
“genk, ini kita gak kemaleman nanti
sampe atas?” tanyaku kepada Pras
“enggak, palingan juga dua jaman kita sampe. Tenang aja” katanya santai
“enggak, palingan juga dua jaman kita sampe. Tenang aja” katanya santai
Lalu Ade langsung membayar tiket
masuk seharga Rp.20.000 untuk empat orang. Setelah membayar tiket akhirnya kami
langsung membentuk lingkaran secara merapat dan berdoa, agar cuaca cerah dan
bisa kembali dengan selamat sampai rumah.
Jalur di Pulosari memang mulus
jalannya, bahkan sudah di semen seperti jalan raya, tapi untuk trekkingnya?
Jangan tanya deh, kaki ku sampai gemetar dibuatnya. Entah mungkin karena aku
yang baru pertama kali berjalan jauh atau mungkin aku yang kurang olahraga.
Sebab, aku melihat Pras, Ade dan juga Novan, asik saja jalan santai tanpa terlihat
lelah sedikitpun. Walaupun aku tidak membawa ransel seperti Ade dan Novan,
tetap saja aku merasa pegal dan mau turun saja rasanya. Tapi aku pikir lagi.
Masa aku menyerah belum setengah jalan?
Pras yang membawa carrier berukuran
kurang lebih 45liter itu asyik berjalan di depan kami. Sedangkan aku, Ade dan
Novan masih tertinggal di belakang.
Sesampainya di Pos 1, kami
istirahat sebentar. Berfoto-foto dan juga mengeluarkan isi cemilan yang kami
bawa. “yaudah jalan duluan, nanti nyusul sebentar lagi” kata Pras kalem. Ade
yang menarik napas langsung melanjutkan perjalanan bersama aku di depan. Novan
dan Pras berjalan dibelakang.
“eh istirahat dulu kek sebentar”
kataku yang sudah enggan untuk berjalan
“tanggung crut, bentar lagi ada pos air terjun” kata Ade cuek
“tanggung crut, bentar lagi ada pos air terjun” kata Ade cuek
Lalu aku kembali melanjutkan
perjalanku yang tampak gontai dan selalu membungkkukkan badanku ketika aku
lelah. Walaupun aku hanya membawa tenda,tapi tetap saja aku seperti di mos lagi
dengan kakak kelas di seolah.
Cuaca mulai mendung dan gerimis
kecil turun, tapi kami masih dijalur yang tidak ada habisnya menanjak. Aku yang merasa kaget dengan treknya seketika
bahagia melihat pos 1 dengan pemandangan air terjun. Ade dan Pras langsung mencari
posisi dan mengeluarkan roti bersama dengan susu kental manis. Novan yang
tampak lelah hanya mengernyitkan dahi dan menenggak air yang baru diambil dari
air terjun. Rasanya memang segar sekali. Aku juga kaget pertama kali Novan
meminum langsung air mentah hasil air terjun tapi lama kelaman aku terbiasa.
Ade juga bilang kalau di gunung jangan takut geli, kalo takut geli yang ada gak
makan trus kelaperan, Pras hanya tersenyum karena melihatku heran. Novan yang
kelelahan memejamkan mata sebentar lalu setelah itu kami melanjutkan kembali
perjalanan.
Jalur selanjutnya yang kami lewati
pada saat itu adalah tebing atau semacam batu yang licin, aku agak kebingungan
karena aku hanya menggunakan sendal seadanya. Tidak ada tali atau semacam
pegangan lainnya. Novan yang lebih dulu naik membantu aku dengan menarik
tanganku. Harus berhati-hati. Sebab kalau tidak, kami akan tergelincir dan
jatuh ke bawah. Mungkin tebing di pulosari lebih ekstrim daripada tanjakan
setan di gunung gede. Kalau di gunung gede ada pegangannya, kalau di pulosari
sama sekali tidak ada. Dengan perlahan kami naik dan akhirnya kami bisa
melewati masa sulit itu. ketakutan kami belum berakhir. Kami di hadapkan dengan
adanya pertigaan jalur.Ade mencoba untuk melihat jalur ke arah kanan tapi
disana ia tidak menemukan adanya jejak-jejak kaki manusia atau jejak kaki yang
biasa di lewati, sampai akhirnya kami memilih jalur sebelah kiri atas instruksi
Pras.
Setelah beberapa meter kami melewati jalur sebelah kiri tadi, ternyata
ada pohon tumbang yang seakan menghalangi jalan kami untuk terus naik ke atas. Dengan
wajah yang bertanya-tanya, seakan Ade memberikan isyarat apakah kami melanjutkan perjalanan atau
tidak. Pras bilang “harusnya ini jalan yang kita lewatin, soalnya ada lumut
tapi kenapa pohonnnya tumbang?” katanya begitu. Aku semakin takut dan rasanya
mau pulang turun ke bawah saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, sungguh
itu adalah pertama kali rasa takutku yang memuncak. Wajah kami semua tampak lelah
dan baju sudah basah karena percikan hujan. Sampai akhirnya kami kembali turun ke
bawah, tapi raut wajah Pras dan Ade masih yakin, kalau jalur itu adalah jalur
yang sebenarnya. Kami berhenti sejenak untuk melepas lelah, kami berdoa barang
kali ada orang yang juga mau naik ke atas. Dan ternyata benar saja..
Tiga orang pendaki berasal dari
cilegon dengan peralatan yang safety dan tampak profesional, pokoknya mereka
itu terlihat sudah lebih berpengalaman dari kita-kita yang perlengkapannya
masih ada yang di tenteng. “mau kemana a?” tanya salah satu dari mereka, “mau
naik ke atas tapi kita ragu mau naikknya” kata Pras, “oh yaudah bareng aja kalo
gitu sama kita, kita juga mau naik ke atas kok. Ini bener jalannya. Lewat pohon
tumbang” katanya lagi. “masih lama gak ya?” tanyaku. “enggak kok setengah jam
sampe sejam lagi teh”. Kata mereka lagi. Jelas saja mereka hapal jalur ini,
ternyata mereka sudah dua kali datang kesini, kami tidak banyak mengobrol
dengan mereka, sebab langkah kaki mereka begitu cepat, sedangkan kami anak baru
mendaki, seperti keong yang tengah tergopoh-gopoh.
Aroma-aroma belerang sudah tercium
dari radius 10meter, kami memasuki kawasan kawah pulosari. Karena cuaca sudah
tidak mendukung dan kondisi kami sudah mulai kelelahan akhirnya kami langsung
mendirikan tenda dan membuka alat masak. Dan akupun langsung mengeluarkan
kamera, rasanya bahagia, ketika aku pikir ini adalah puncak dari gunung
pulosari, ya aku kegirangan dan langsung mengabadikan teman-temanku yang tengah
sibuk mendirikan tenda dan juga memasak. Tiga pendaki yang menunjukan kami
jalan, memilih untuk mendirikan tenda di atas kawah. Huah aku sudah tidak
sanggup kalau harus naik lagi ke atas. Itu saja rasanya aku sudah mau pulang.
Mie rebus setengah matang pertama
kali yang aku makan, atau mie yang dipaksa matang karena perut kami yang sudah
lapar?? Haha itu rasanya memang aneh,
benar-benar aneh. Tenda sudah berdiri, kami tinggal beristirahat tidur
di dalam, tapi tiba-tiba hujan mulai turun dan angin semakin kencang. Kami
semua yang masih diluar seketika merapikan barang dan langsung masuk ke dalam.
Jaketku pun basah. jaket seharga
seratus ribu yang aku beli dari temanku dengan ukuran yang melebihi badanku aku
pakai saja dalam keadaan basah. ehm sebenanya itu bukan jaket tapi sweater yang
kalau kena air langsung kuyup haahahaha. Waktu itu kami masih egois, gak ada
yang minjemin jaket sama sekali, semuanya pakai sweater dan celana pendek
hahaha.terlebih Ade yang tidur mengenakan sleepingbag tidak mau berbagi dengan
kami. Dalam keadaan dingin kami tidur, aku menggigil. Untung saja sweaterku
besar sekali sampai kakiku aku lekukkan dan bisa masuk kedalamnya hahaha.
ade dan novan
Angin semakin menjadi kencangnya,
tenda mulai ambruk, seisi tenda mulai kebocoran dan basah, ah kami ingat apa
jangan-jangan alam mengamuk gara-gara Ade buang air sembarangan tanpa permisi?
Tapi bukankah seharusnya permisi itu kepada yang benar-benar memiliki seisi
bumi ini? tak tahulah . tapi yang jelas, setelah Ade buang air kecil waktu itu,
angin langsung saja tiba-tiba datang. Perut kami mulai lapar, air sudah mulai habis.
Tidak mungkin pula kami meminum air yang bercampur dengan belerang, rasanya
saja pahit dan katanya tidak bagus untuk dikonsumsi. Dan akhirnya, karena darurat, kami memasak mie
instan dengan air hujan yang ditadangi di depan tenda. Saat itu aku hanya
terheran-heran melihat Ade, Pras dan Novan dengan lahap memakan mie rebus air
hujan dan bekas masakan mie instan semalam. Karena lapar akhirnya aku ikutan
makan. Memang udaranya memancing perut kami untuk terus-terusan makan.
Hujan itu terjadi sampai pagi,
bahkan sampai kami pulang. Ke esokan harinya kami berfoto di kawah sebentar,
menghangatkan badan dan bermain-main dengan asap kawah pulosari. Kami tidak
melanjutkan perjalanan sampai puncak, sebab aku sudah tidak kuat dengan trek
yang dilewati, aku merasa kaget dengan jalurnya hahaha iya aku memang lemah,
padahal nanjak Cuma bawa tenda digemblok dan gak bawa apa-apa. Ya maklum saja
lah ya, kan aku anak kecil anak ingusan yang baru banget nanjak. Kami sudah
bersiap-siap untuk pulang, tapi tiba-tiba perut Novan berkontraksi menahan
mulas, dengan wajah yang pucat menahan mulas dan dingin akhirnya kami tunggu ia
membuang air hahaha .
Dengan udara yang lembab, kami
pulang. Rasanya aku bahagia bisa kembali kerumah. Baju kami mulai basah, bibir
kami bergemelutuk menahan dingin, terlebih Novan yang urat-urat tangannya mulai
mengeluarkan urat-urat karena menahan beban.
Kami pulang, di iringi dengan
rintikan hujan, dan pengalama inilah yang menjadikan kami pelajaran bahwa
mendaki itu tidak sembarangan. Kekurangan apapun dalam pendakian kami, kami
jadikann evaluasi diri agar tidak terulang kembali.
Dan alam mengajarkan kami untuk
menjadi mandiri, alam yang mengajarkan kami untuk saling berbagi, alam pula
yang mengajarkan kami untuk selalu mengingat Sang Pencipta.
Minggu, 03 Juli 2016
Awal mula mengenal dunia Pendakian
my best shoes
Kali ini aku akan menceritakan awal mula aku menyukai dunia pendakian.
Sebelumnya aku akan ceritakan lebih dulu kenapa aku suka mendaki gunung. Jadi dulu, waktu aku masih sekolah SMP aku membaca novel 5cm yang aku pinjam dari teman kampus kakak ku, awalnya aku memang tidak menyukai membaca, tapi setelah aku baca halaman tengah dari cerita 5cm, aku langsung tertarik dan penasaran ingin membacanya. Sampai akhirnya, ada satu bagian cerita yang menceritakan tentang pendakian dan keindahan alam Ranu kumbolo. Imajinasiku terpancing untuk membayangkan bagaimana indahnya pemandangan danau di tengah hutan seperti itu, waktu itu filmnya belum keluar dan aku belum mengenal yang namanya internet jadi aku bukan korban film. Hanya korban novel yang bermodalkan imajinasi sendiri hehe. setelah membaca novel 5cm, kakak ku selalu cerita tentang temannya yang suka mendaki gunung, sampai akhirnya akupun penasaran dan ingin diceritakan secara langsung oleh teman kakakku. Aku pun semakin tertarik untuk mendaki walaupun katanya mendaki gunung itu berbahaya. akhirnya aku mengikuti kegiatan Pramuka di sekolahku untuk mengambil ilmu bagaimana caranya kemping hehe.. setelah beberapa lama aku latihan Pramuka setiap minggunya, akhirnya aku terpilih sebagai anggota Teratai dan aku masuk dalam seleksi jambore di kecamatan dekat sekolahku. Singkat cerita akhirnya aku lulus SMP dan aku masih pensaran bagaimana rasanya mendaki gunung. aku selalu antusias dan bersemangat kalau aku disuruh menjemput kakak ku di kampusnya. Jelas saja aku bersemangat, sebab aku akan bertemu dengan teman-teman kakaku yang sudah expert dalam dunia pendakian. Aku selalu bersemangat mendengarkan cerita mereka ketika mendaki. ketika aku sekolah SMA, aku belum menemukan teman yang suka juga dengan pendakian. Aba’ku juga waktu itu tidak mengizinkan aku untuk pergi mendaki. aba’ bilang kalau mendaki gunung itu banyak yang hilang, seperti anak temannya yang hilang di gunung Slamet dan sampai saat ini tidak di temukan. Aba’ juga bilang, kalau di gunung itu banyak hantunya. Jelas saja aku takut. Sebab, aku memang takut dengan hal-hal goib seperti itu. tapi rasa takutku semakin membuat aku penasaran untuk terus mengenal dunia pendakian. Sampai akhirnya, ketika aku memasuki kelas 3 SMA , aku dipertemukan dengan teman-teman yang juga suka dengan kegiataan outdoor. Aku bertemu dengan Pras, Ade dan Enye. Akhirnya juga aku diajak untuk ikut kegiatan pecinta alam di sekolah oleh Pras waktu kelas 3 menjelang ujian. Awalnya aku malu untuk ikut kegiatan itu. tapi aku merasa mendaki itu bukanlah hanya sekedar mendaki. teman kakaku juga bilang, kalau hidup di alam liar itu sangatlah berbahaya apalagi kalau kita mengalami keadaan yang sangat darurat. Jadi tidaklah sembarangan.
Pendakian pertamaku adalah Gunung Pulo Sari. Nanti aku ceritakan bagaimana pengalaman yang tidak akan terlupakan itu.
Selasa, 28 Juni 2016
Tips Mendaki Gunung
photo by : listy
Mendaki gunung itu menurutku adalah ... kegiatan yang tidak
murah. Kenapa?
Karena terkadang nyawa kita yang menjadi taruhannya. Kenapa
aku bilang nyawa yang menjadi taruhannya? Karena, mendaki gunung itu perlu
perhatian khusus ,terlebih untuk diri sendiri dan juga teman mendaki kita. Mendaki
gunung bukan hanya persoalan foto selfie, menikmati keindahan alam, ketawa
ketiwi, bersenang-senang atau sesuatu hal yang merupakan kepentingan diri
sendiri, memang tidak ada yang salah dalam hal itu tapi ingat sekali lagi. keselamatan. Mendaki gunung juga harus memperhatikan lingkungan sekitar contoh
kecil yang sering kita abaikan adalah membuang sampah sembarangan.
Banyak sekali dari kita yang merasa bahwa kita adalah
pecinta alam yang benar-benar melestarikan alam. Menurutku pecinta alam tidak
merusak, aku tidak mau mengakui kalau aku adalah pecinta alam. Sebab aku sadar
dalam diriku sendiri aku masih suka menginjak-injak rumput walaupun ketenaran
rumput itu adalah rumput liar. Jadi kalau mencintai ya tidak merusak. Mengerti
maksudku?
Mendaki gunung menurutku bukan hanya sekedar berbekal
peralatan safety, tapi mendaki gunung juga harus berbekal ilmu. Iya ilmu
bagaimana ketika kita menghadapi keadaan darurat. Seperti misalnya tersesat di
hutan, apa saja yang harus di lakukan. Terserang penyakit ekstrim di gunung
seperti hypotermia, bagaimana cara mengatasinya, bagaimana ketika persediaan
makan habis lalu apa yang akan kita makan selain perbekalan yang dibawa dan
masih banyak lagi.
Banyak yang bilang kalau mendaki gunung adalah menyerahkan
nyawa, bertaruh nyawa dan lain sebagainya. Menurutku memang benar begitu. Mendaki
gunung itu adalah 70% s/d 30% kita bisa kembali kerumah. Kalau niat kita mendaki
saja sudah tidak baik, maka selama perjalananpun juga akan mengalami hal-hal
yang tidak baik pula. Ingat jangan membuang sampah sembarangan atau melakukan hal konyol lainnya.
Di zaman sekarang, banyak yang bilang kalau naik gunung itu
adalah suatu kegiaatan yang “kekinian” tapi menurutku, pendapat seperti itu
hanya untuk orang-orang yang hanya sekedar ikut-ikutan tanpa pengetahuan yang
cukup.
Aku beruntung pernah menjadi anak sispala, walaupun dalam
kurun waktu yang sangat singkat tapi setidaknya aku mengambil pelajaran dari
sispala di sekolah. Bagaimana cara mengemas perlengkapan mendaki dengan benar, apa saja yang
harus di persiapkan, makanan apa saja yang harus dibawa, bagaimana kalau kita
tersesat di hutan dan bagaimana pula cara mengatasi orang yang terserang
hypotermia. Tapi alhamdulillah aku beruntung sekali, sampai saat ini aku belum
pernah mengalami tersesat parah dan mengalami penyakit yang parah pula.
Tips dariku untuk kegiatan mendaki ini adalah :
Pertama : mengantongi izin orang tua, sebab restu orangtua sangatlah penting agar perjalanan kita selalu di iringi dengan ridhonya. berbekal doa dan jangan pernah lupa dengan Sang Pencipta. Sebab, kepada siapa lagi kita akan minta pertolongan dan perlindungan ketika tidak ada yang bisa menolong lagi??
Pertama : mengantongi izin orang tua, sebab restu orangtua sangatlah penting agar perjalanan kita selalu di iringi dengan ridhonya. berbekal doa dan jangan pernah lupa dengan Sang Pencipta. Sebab, kepada siapa lagi kita akan minta pertolongan dan perlindungan ketika tidak ada yang bisa menolong lagi??
Kedua : Pilihlah teman yang akan menemani perjalanan
kalian ketika mendaki nanti. Sebab, memilih teman perjalanan yang baik adalah
yang paling aman. Pilihlah teman mendaki yang paham betul terhadap dunia
pendakian, jangan hanya karena mereka lebih memiliki perlengkapan safety saja,
tapi pengalaman belum ada. Itu sangatlah sia-sia. nihil. ibarat orang tuna netra menuntun tuna netra lainnya. Temanmu harus paham bagaimana
mengatasi situasi darurat di hutan sana. Karena di hutan tidak ada dokter,
tidak ada supermarket tidak ada siapa-siapa. Semuanya serba manual. Untuk pendaki yang
sangat baru atau biasa disebut newbie, kalian bisa berangkat dengan orang yang
sudah berpengalaman dalam urusan pendakian. Tentunya harus juga paham situasi
di gunung sana dan juga harus paham terhadap penyakit sendiri.
Ketiga : gunakan SOP pendakian. Perlengkapan pribadi
sangatlah penting. Seperti ; Sleepingbag, Jacket, Trekkingshoes, Raincoat (jas
hujan), headlamp, botol minum dan p3k.
perlengkapan vital seperti itu aku harap jangan sampai kalian lewatkan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di alam sana. Entah kita tersesat sendiri, tersesat dengan rombongan atau hal-hal aneh lainnya.
perlengkapan vital seperti itu aku harap jangan sampai kalian lewatkan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di alam sana. Entah kita tersesat sendiri, tersesat dengan rombongan atau hal-hal aneh lainnya.
Keempat: bawa logistik pribadi. Maaf, bukannya aku
mengajarkan kalian untuk pelit berbagi dengan teman kalian, tapi makanan
pribadi itu sangatlah penting. Di awal perjalanan mungkin kalian akan selalu
beriringan dengan rombongan, tapi ketika di pertengahan nanti. Apakah kalian
akan selalu beriringan pula? Pengalamanku selama mendaki dengan banyak orang
pasti di tengah jalan akan berpisah walaupun hanya beberapa meter saja. Makanya
aku sarankan kalian untuk membawa cemilan sendiri. Aku pribadi, cemilan yang
wajib di saku celanaku adalah madu, cokelat, lolipop dan minuman rasa-rasa tapi
sekarang aku menghindari minuma yang ada rasanya. Ternyata itu penyakit, dan
sudah aku buktikan ketika aku ke semeru bulan mei lalu. Kalau aku berangkat
mendaki bersama orang terdekat, aku hanya membawa daypack dan isi daypackku
full cemilan. Seperti biskuit cokelat, fitbar, bengbeng dan biskuit kecil-kecil
lainnya.
Sedikit pengalaman dan cerita. Waktu aku masih kuliah dulu,
aku adalah anak yang bisa dibilang ekstrim. Baru pulang kuliah aku sudah di
telfon oleh temanku untuk pergi ke merbabu. Aku hanya berbekal ransel berisi
buku dan undang-undang, jacket dan uang. Sesampainya di merbabu sana, aku tidur
hanya menggunakan jacket. Menyiksa sih tapi kalian juga harus tau kondisi
kalian ya kalau mau mencoba hal ekstrim seperti itu. lebih baik jangan dicoba, bahaya hehee..
Dariku itu saja. Nanti aku lanjut ceritanya kalau aku sudah memiliki banyak pengalaman.
Keep safety!!
Senin, 27 Juni 2016
Pasar Tanah Abang Menjelang Hari Raya
beberapa waktu lalu sepulang dari rumah kiki, kalau tidak salah hari minggu tepatnya aku sengaja pergi ke Tanah Abang untuk membeli bahan yang akan aku jadikan khimar yang biasa aku pakai.
dengan menggunakan kereta Commuterline dari arah Taman Kota - Duri - dan tujuan akhir stasiun Tanah Abang.
sebenarnya aku sudah mengira kalau Pasar Tanah Abang nanti akan penuh sesak oleh para ibu yang akan berbelanja untuk hari raya nanti. Dan benar saja, baru turun dari stasiun duri, gerbong kereta sudah penuh, padat dan pengap. utung saja AC di dalam gerbong membantu kami semua yang berada di dalam untuk menikmati sebentar rasa dingin setelah berpanas-panasan tadi. dan untung pula aku sedang tidak tidak puasa karena si merah sedang berkunjung tiap bulan.
sesampainya di Stasiun Tanah Abang, aku langsung loncat menuju pintu keluar dan langsung men'tap' kartu multi trip yang aku punya. tahu kan kartu multi trip itu apa? baiklah kalau belum tahu aku akan kasih tahu sekarang. jadi kartu multitrip itu adalah kartu yang di gunakan untuk naik kereta tanpa harus di tukarkan lagi kepada loket ketika turun nanti. jadi menurutku kartu itu membantu pengguna kereta untuk menghemat waktu dan juga biaya yang di keluarkan. kalau habis? ya tinggal isi ulang saja saldonya. jadi gak usah antri lagi deh, begitu kurang lebih.
lanjut lagi ke cerita, iya jadi ketika aku baru saja turun dan keluar dari stasiun Tanah Abang, ternyata sudah penuuhh dan sangat ramai. sampai jalan raya di penuhi oleh ratusan orang yang akan berbelanja. bukan hanya kaum ibu saja yang ada disana, tapi kaum bapak pun ikut berbelanja demi mendapatkan harga yang murah untuk keperluan hari raya.
aku berjalan lurus ke arah barat Tanah Abang berharap menghindari jalan yang ramai dan penuh sesak, memang benar jalan yang aku pilih agak renggang, tapi sial! pas aku masuk gang menuju blok F dan blok A jalanan sudah padaat dan huuaaa aku berasa seperti sedang merasakan penderitaan orang-orang yang sedang berada di mina tahun 2015 lalu. semuanya penuh sesak dan sesak. panas dan penuh keringat. untung saja tidak ada laki-laki yang ikut mepet-mepet dalam formasi itu.
ada pula para ibu yang membawa anaknya sampai si anak merasa pengap karena terhimpit bokong besar ibu-ibu di depannya, suara riuh karena keluhan ibu-ibupun meramaikan tempat ini yang penuh sesak. menurutku datang kesini adalah resiko, resiko karena jalan yang berdempetaan, resiko karena rela berdesakkan, jadi tidak mengeluh kalau mau berbelanja disini. kalau tidak mau berdesakkan ya lebih baik tidak usajh saja datang kesini untuk mendapatkan harga yang murah. aku masih belanjutkan sabarku sampai aku sampai menuju blok A untuk membeli bahan. aku pikir kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? stok khimar ku sudah hampir habis dan aku bosan dengan warna yang setiap dua hari sekali hanya itu-itu saja.
ketika aku sudah hampir sampai menuju blok A, aku ingin kembali pulang dan mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan yang penuh sesak itu. tapi, pikiranku berubah, aku akhirnya membalikkan badanku untuk menyusuri jalan pintas menuju blok A. dan akhirnya sampailah aku di tempat penjual bahan.
tidak lama-lama disana, sebab aku sudah malas untuk banyak memilih. aku pilih saja warna yang sudah ada di imajinasiku tadi ketika aku berhimpitan dengan para ibu-ibu, kemudian khimarku aku langsung jahit setelah itu pulang.
ternyata penderitaanku bersama pengujung di tanah abang pun belum selesai.
aku memang melintasi jalan yang agak mulai renggang, aku bisa bernafas lega waktu itu.
tapi ketika aku akan kembali menuju gang arah stasiun??? daaaaanggggg!!!1 makin ramai dan ini tambah parah.
di tengah kemacetan yang berdesak-desakkan seperti itu, ada motor yang sedang berusaha untuk maju kedepan. aku memang agak kesal dengan motor itu, dan para pengunjung disana pun begitu. semuanya menghujat si pengendara motor, bahkan hampir saja adu jotos karena ulah si pengendara motor. aku hampir tidak mengerti, mungkin saja si pengendara motor itu adalah warga yang rumahnya dekat dengan pasar tanah abang?? ah positif thinking.
sampai akhirnya aku menemui gang yang menembus stasiun kereta.
tapi karena pengunjung yang membludak, sistem buka tutup seperti di puncak pun di terapkan. baiklah aku menunggu dan akhirnya aku naik kereta jurusan Tanah Abang - Parung. memang seharusnya kereta tujuanku adalah Tanah Abang - Maja. tapi melihat kondisi yang seperti ini sebaiknya aku menunggu kereta maja di parung saja. lebih aman dan aku bisa melanjutkan tidurku yang tertunda hehehe
tipsku ketika kalian pergi ke tanah Abang untuk berbelanja adalah :
jangan berbelanja menjelang hari raya h-15
kalau mau beli baju baru lebih baik, sebelum puasa. supaya ibadah puasa kalian lebih khusyu dan tidak lagi memikirkan baju lebaran.
yang kedua adalah, kalau belum bisa beli baju lebaran sebelum hari raya, pergilah ke tanah abang dalam keadaan kalian sedang liburan puasa (untuk yang perempuan ya) siapkan tenaga, sarapan dulu dan bawa air sebanyak-banyaknya. soalnya kalian akan berhadapan dengan ibu-ibu yang suka nginjek kaki kita seenaknya dan suka sikut-sikut2an.
yang ketiga adalah
jangan bawa kendaraan, seperti mobil atau motor, lebih baik naik angkot atau kereta.
sebab kalian akan bete duluan, belum beli baju udah keburu bete kan karena macet.
yang ke empat adalah
datang lebih pagi, misalnya jam 8 waktu toko-toko baru pada buka. mendingan tungguin ajadeh dari pada desek-desekan
yaudah sekian deh cerita tanah abangnya semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)












