Rabu, 23 Agustus 2017

Naik Vespa Ke Tanjung Lesung




"Aku mau touring naik Vespa"

"touring? naik vespa? sama siapa? aku boleh ikut?


"aku belum selesai ngomong, kamu udah nyerocos duluan"

"ooh hehe iya iya maap kalo gitu"


"mau ke sawarna" katanya lagi

"hah? sawarna? nggak jangan. 

ke tanjung lesung aja bagus. di sawarna kurang bagus (pengalaman teman-teman yang sudah kesana)
lagian disana kan cuma karang" 

seperti biasa, setiap kali Pras mau pergi dia selalu bilang, dan kali ini Pras mengajakku touring naik Vespa ke ujung barat pulau Jawa, yaitu ke Tanjung lesung dengan saran dariku. Pras langsung mengiyakan setelah aku tunjukan foto keindahan Tanjung lesung yang aku searching di Mister Google. 

trip kali  ini memang bukan kali pertama kami menunggangi Vespa. 3 bulan lalu, aku pergi ke kawasan Gunung Halimun di Bogor dengan menggunakan Vespa juga. nanti aku ceritakan bagaimana keseruan trip ke Gunung Halimun Bogor. 

perbekalan yang tidak begitu rumit, membuatku semakin tidak sabar untuk sampai di Tanjung Lesung, menikmati deburan ombak, hembusan angin sambil tiduran lucu di hammock. ah rasanya sudah tidak sabar menanti suasana itu. 

hari rabu, sepulang kerja aku langsung membuat bekal untuk di perjalanan. aku tahu kalau perjalanan kali ini akan melelahkan. bayangkan saja naik Vespa ke Tanjung Lesung dengan jarak hampir 5 jam kami tempuh. tak mengapa asal sama kamu hihi..

setelah bekal sandwichku dan juga nugget yang aku goreng di magic com (maklum anak kost) aku langsung mandi dan membereskan sedikit kamarku yang tidak karuan. 
Pras yang dari bengkel pun langsung mandi dan menjemputku di kost.

sesampainya Pras di kostan, kami terlebih dulu menunggu yang lainnya di rumah Jordy. kami berangkat ber-6. Maul, Endut, Ka Fendi dan juga Fachri. 
pukul 22.30 kami berangkat dari Cengkareng. ya memang kalau piknik bareng mereka itu memang agak slow, kalau orang lain ikut mereka trip bareng dan ternyata mereka itu lambaaatt pasti ya kapok trip bareng hahaha..

sebenarnya, aku sudah ngantuk banget karena kerjaan hari ini sengaja aku babat habis, ya maklum kan besoknya mau bolos kerja haha (pegawai gak teladan jangan di tiru)
tapi ya Pras maklum, dan pasti tau kalau aku bakalan tidur di Vespa haha.

Vespa kami melaju tidak kalahnya dengan motor bebek biasa, bahkan lebih cepat dari motor-motor biasa, aku pikir karena Vespa memiliki kopling yang menjadi acuan mereka melaju cepat atau memang karena Pras yang suka setting-setting mesin supaya bisa ngebut haha gak ngerti yang penting aku di bonceng. entah aku lebih suka naik vespa daripada naik motor biasa. dari jaman SMP sebenarnya memang sudah suka, malah di daerah rumahku lebih banyak anak vespa reagge haha, tapi ya karena aku masih remaja jadi cuma sekedar suka aja gak bisa naik hehe. eh pernah deng beberapa kali naik vespa malah nyusruk ke got -_-


pukul 01.30 kami sampai di daerah cikande, 
serunya naik Vespa ketika Vespa kita mogok atau lagi bongkar mesin, pasti vespa lainnya ikt bantuin. ehm solidaritasnya tinggi. pernah suatu kali kami dapati seorang bapak di Jl lingkar luar cengkareng sedang membetulkan Vespanya, lalu Pras berenti ikut bantuin si bapak yang keliatannya lagi buru-buru mau kerja, Pras ikut bongkar Vespa dan gak ada setengah jam Vespanya nyala lagi (yeaay) dan akhirnya si bapak bisa kerja. 

sama halnya ketika kami berenti di pinggi jalan cikande, padahal Vespa kami tidak ada yang lagi mogok tapi vespa lain berhenti nanyain keadaan vespa. gak lama kami bertegur sapa orang itu ngasih kita stiker, dan ternyata dia itu anak skuter lampung heheu ciye anak komunitas. 

kami memilih untuk istirahat sebentar di warung lombok pilihan Maul, awalnya kita mau makan nasi goreng tapi Maul salah liat yaudah mau gak mau kita berenti. 
karena akau udah ngantuk banget jadilah aku terkapar di warung lombok itu, aku memilih untuk tidur dan gak makan. cuma Maul, Endut, Ka Fendi, Fahcri dan Pras. 
setelah mereka selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. 

jalur cikande yang cukup mencekam, banyak sekali mobil-mobil besar pengangkut barang berat sedangkan kami kendaraan kecil yang siap mereka senggol tapi naudzubillah jangan sampai. 
kami memilih untuk mendahului mobil besar, jalurnya pun juga tidak terlalu mulus jadi kami harus berhati-hati melewati jalan raya serang yang kalo kata anak-anak itu "transformer indonesia" haha..


ya Vespa kami kembali melaju dengan cepat, menurutku naik vespa seperti bermain tamiya, mobil balap yang menggunakan dinamo agar kecepatannya pun bisa lebih kencnag dari lawan. 
jalanan sepi sekali, hanya ada vespa-vespa kami yang menghiasi suara heningnya kota pandeglang pada malam itu.


pukul 01.30 wib, kami sampai di alun-alun pandeglang, 
kaki-kaki kami selama hampir 3 jam akhirnya bisa di luruskan, belum lagi para driver yang vespa yang tangannya sudah hampir keram haha..
bekal yang tadi sore aku buat, aku keluarkan sebagai pengganjal perut yang hampir keroncongan, padahal tadikan sudah makan. 


Pras kembali membakar sebatang ciggarretenya, walaupun ia tahu kalau aku tidak suka melihatnya merokok. merusak kesehatan saja. badan sudah kurus tak ada daging dan hanya tinggal tulang, tapi tetap saja sebatang dua batang masih habis dia hisap. 
sesekali nugget yang aku bawapun ia makan. 


heningnya kota pandeglang mengingatkan Pras, Maul dan Ka Fendi pada sesuatu yang membuat mereka tertawa, aku tidak mengerti apa yang mereka tertawakan. yang aku pahami kalau mereka pernah tidur di alun-alun kota sambil menunggu Gusli. hehe aku ikut tertawa saja agar keliahatan ngerti padahal mataku sudah sayu-sayu mengantuk.

kami melanjutkan perjalanan kembali, masih 4 jam untuk sampaike pantai. sesekali Pras menyuruhku untuk membuka googlemap untuk melihat seberapa jauh lagi jarak yang akan kami tempuh. 
Pras bilang, kalau sudah sampai di labuan artinya sudah mau dekat kurang lebih satu jam lagi sampai dan setelah kami melewati labuan ternyata di jalan Maul mengantuk, dan akhirnya kami berhenti di masjid.
Vespa kami terparkir di halaman masjid, waktu itu sudah mau subuh kalau tidak salah sudah pukul 04.00 wib, 
Pras langsung duduk juga diikuti yang lainnya. 

asap-asap rokok kembali mengepul, rasanya mual dan tak tahan dengan baunya. rasanya kesal juga melihat Pras kembali membakar sebatang rokoknya. 

aku bilang 
"kamu ngerokok mulu"

"ngerokok mulu dari mana? kan baru ini"

 "iya tapi sering" kataku

"kan aku udah gak ngerokok lagi" jawabnya lagi

ah yasudahlah, daripada kami debat, aku diam saja dengan wajah masam. 

pukul 04.30 adzan subuh berkumandang, Pras, Endut, dan juga Ka Fendi segera mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. senang sekali rasanya melihat mereka sholat berjamaah. sejuk, bagiku seperti pohon kering yang di sirami dengan air lalu kembali tumbuh. 

kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pantai Tanjung Lesung. mata-mata hitam mereka tak karuan aku melihatnya. rasanya lelah sekali. kalau saja aku bisa mengendarai Vespa mungkin sudah aku gantikan Pras supaya dia bisa istirahat. 

Dari gelap hingga terang, kami terus menyusuri jalur desa Pandeglang, rasa-rasanya aku pernah melewati jalan ini, ya waku itu 2tahun yang lalu aku pernah lewat ini,bertemu dengan adik-adik yang semangat bersekeolah walaupun keadaan sekolah mereka hampir runtuh karena sudah bepuluh-puluh tahun tidak di renovasi. 

kami melewati pasar dan mampir sebentar membeli sarapa nasi uduk. rasanya jauhh sekali untuk sampai ke pantai, walaupun kami sudah memasuki desa Tanjung Lesung tapi jalur yang kami lewati sangatlah panjang, terlebih kami menunggangi si tua baja yang antik. 

Pagi itu, awan sedikit mendung dan udara pantai sudah terasa kencang.
menghempas kibasan-kibasan pakaian dan membuat aku semakin ingin segera berayun di hammock. 

penunjuk jalan Tanjung Lesungpun sudah menandakan kalau kami sebentar lagi sampai.
di sebelah kanan jalan kami, sudah tampak pantai dan hempasan ombak dengan karang, indah sekali. 

lima kilo meter lagi ...


Tanjung Lesung 


setelah melewati jalur yang panjang akhirnya kami sampai di kawasan pantai Tanjung Lesung, ketika kami memasuki kawasan Tanjung Lesung yang seperti kawasan Villa ini, kami tampak heran, dimanakah pantainya? tidak ada suara-suara ombak, atau bau-bau angin pantai, yang ada hanyalah tumbuhan bakau di sebelah kiri kami dan daun yang rindang. 
kami pun juga was-was dengan sisa bensin, sebab pintu masuk kawasan pantai Tanjung Lesung itu lumayan jauh, hampir 1km kalau sampai mogok karena kehabisan bensin, hahaha ya deritalah kita. tapi kata Pras "tenaangg" haha iyakan saja. 

setelah kebingungan hampir 15 menit di jalur kawasan pantai Tanjung Lesung, kami memutuskan untuk bertanya kepada orang yang lewat, mungkin saja dia tau dimana letak pantainya. 
ka Fendi akhirnya pun bertanya kepada bapak-bapak yang hendak masuk ke area 'Beach Club' 

"Pak kalau mau ke pantai lewat mana ya?' tanya ka Fendi
"masuk aja mas lewat sini, bayarnya per orang 100 kalau ikut beach clubnya"

aku dna yang lainnya mendengar hal itupun langsung hilang semangat. aku pikir yaudahlah kita cari tempat lain aja, mungkin kalau ke ara barat lagi bisa ketemu pantai yang lebih bagus daripada pantai seharga Rp.100.000 
dan akhirnya kamipun coba untuk masuk ke kawasan pantai beach club. 

untuk meyakinkan kalau pantai ini memang pantai yang  
bisa dikunjungi akhirnya kamipun coba untuk masuk. Maul dan Fahcri mulai masuk dan izin dengan satpan yang berjaga di pantai, ketika Maul dan Fachri masuk, Maul bilang kalau pantainya sama seperti yang ada di google haha. 
akhirnya kami masuk dengan tarif Rp. 25.000

setelah perjalanan panjang, Vespa di parkirkan dan kami mulai mencari lapak untuk menggelar makanan. dengan lahap kami makan setelah perjalanan dari semalam. 
setelah makan selesai, kami mencari tempat untuk beristirahat. 
berjalan santai dengan suara deburan ombak dan hembusan angin yang terkadang membuat baju kami terbang. memang Nikmat Tuhan tiada duanya. 

Maul, Arip, Kageng, Ndut dan Pras membuka flysheet, aku juga memasang hammockku karena sudah tidak sabar ingin berayun menikmati hembusan angin dipinggir pantai. 
setelah hammock dan flyseet selesai di gelar, tidak lama kemudian langsung semuanya terpulas. 

Tanjung Lesung ini memang cocok untuk para pejalan yang suka dengan pantai, di tengah pantai tampak begitu romantis ayunan seperti di Lombok, kalau sepi mungkin lebih romantis. 
ada ayunan jaring di pantainya, pantainya pun masih terlihat bersih, bahkan hanya beberapa pengunjung saja. kalau dibangingkan dengan pantai anyer ini tidak sebanding karena pengunjung yang terlalu ramai. 

selain gunung, pantai adalah tempat favoritku untuk menyendiri. menikmati hembusan angin dan juga deburan ombak, menikmati suara-suara nakalnya burung yang berkeliling di kawasan pantai. 

berkendara dengan Vespa menuju pantai memang seru sekali, 
aku berharap masih bisa seperti ini setelah menikah nanti, berkendara dengan Vespa bersama anak dan suamiku kelak. hehe
 

Selasa, 04 April 2017

Dia Yang Sempat Hilang

Kepada kamu yang sempat menghilang
dan aku temukan dalam genggaman yang lainnya
aku lebih memilih bungkam daripada aku harus berdemo dengan rasa
meronta dan merengek untuk meminta hatimu untukku
memaksa untuk melihat "INI AKU"
seakan aku tidak peduli siapa yang engkau genggam sekarang.

tapi aku mengalah
mengalah untuk dia yang saat itu telah bersamamu
dua wanita yang mengejar untuk mendapatkan hatimu
memperebutkan hatimu..
tapi tidak dengan aku..

aku lebih memilih bungkam dan tanpa sepatahpun aku berkata
aku lebih memilih untuk mengalah dan pasrah
aku ini siapa?
bahkan aku seperti daun gugur yang jatuh dari pohonnya lalu
di injak-injak lalu di lupakan.

aku ini siapa??
perempuan yang tak cantik parasnya dan acuh saja
memikirkan penampilan saja aku tak mampu
huh.. apa aku ini sedang bermimpi untuk merebut hatimu dengan dua wanita itu?

aku lebih memilih diam, bungkam, membisu ratusan tahun.
aku lebih memilih untuk menjalani hidupku,
menikmati duniaku yang kamupun tak tahu
bagaimana aku mengarungi waktu.

menjauh darimu, aku menemukan sesuatu
menjauh darimu, aku mendapatkan banyak hal,
tanpamu dulu aku bisa berpetualang kemana saja,
menjajahi gunung dan laut seorang diri..

orang lain tak peduli dan akupun tak peduli kemana aku pergi,
ya..
ternyata aku bisa mengarungi waktu tanpa kamu,
tanpa kamu yang dalam benakku masih tertanam sampai saat ini.

menjauh darimu, aku pernah merasakan cinta
menjauh darimu, aku pernah merasakan rindu
menjauh darimu, aku pernah merasakan sakitnya di khianati.
aku pernah merasakan luka yang sangat amat pahit dan perih.
lebih dari kau yang pernah ditinggal menikah  kekasihmu dulu.
lukaku dulu seperti sayatan luka yang di teteskan dengan cuka.

kalau sakitmu dulu masih ada yang menghibur. teman-temanmu
aku sama sekali tidak.
aku mengobati lukaku sendiri. seorang diri
tak ada teman, tak ada ruang untuk berbagi..
hanya aku sendiri.

Takdir mempertemukan kita lagi,
saat aku mencoba menyembuhkan luka,
dan aku mulai kembali bangkit untuk menolak rasa sakit.

ya..
kamu datang..
lagi..
lagi..
dan ...
semakin mendekat,

tolong jangan pergi lagi,

dalam hatiku, aku tak mau kembali terulang pada masa-masa itu
masa dimana aku memendam rasa yang sangat jauh untuk aku gapai.
tapi entah..
aku merasa yakin saat ini,
bersamamu aku mau merangungi waktu bersama
menggenggam tangan yang sangat erat untuk saling menguatkan,
rela bersandar di bahu saat kita saling membutuhkan,

bersamamu,
rasanya aku mau terus berlama-lama
mengahadapi rintangan bersama
tertawa bersama
saling berpelukan
sampai suatu saat nanti
kita akan bahagia. 

jangan penah pergi lagi,
jangan pernah katakan "aku menyerah"
yang aku butuhkan seakarang adalah "aku mau berjuang bersama"

 kamu seperti senja yang hampir saja tenggelam seakan tak pernah kembali,
tapi ternyata aku salah. ternyata senjamu membawa keindahan yang selalu di rindukan.

Jumat, 17 Maret 2017

Kekuatan Pikiran




akhir-akhir ini aku merasa jika sesuatu yang aku pikirkan itu akan benar terjadi
baik pikiran negative ataupun pikiran positive
aku pikir, aku adalah seorang yang mempunyai indera ke enam,
tapi setelah aku pahami bahwa pikiranku memiliki kekuatan yang yang sangat tajam
bukan karena aku memilki indera keenam,
aku adalah tipe orang yang mudah lupa,
aku juga bukan orang yang mahir dalam berhitung.

aku menyadarinya akhir-akhir ini
kenapa sering sekali hal-hal yang pernah aku pikirkan
berubah menjadi kenyataan.
ternyata itu berasal dari pikiranku.
kalau aku memikirkan tentang hal-hal negative maka,
akan terjadi hal-hal yang negative,
sebaliknya, kalau aku memikirkan ha-hal positive,
maka aku akan mengalami hal-hal positive pula.
entah itu senang ataupun sedih.

aku memang orang yang gemar berimajinasi
tapi imajinasi itu berasal dari pikiran juga.

saat ini aku masih mencari bagaimana caranya
agar pikiranku tidak mempengaruhi kehiudpanku untuk kedepannya.
sejujurnya aku ingin hidup normal. maunya bahagia-bahagia saja

terkadang, kalau aku sedang memikirkan hal yang tidak enak,
aku langsung merubahnya menjadi sesuatu yang menakjubkan.



Rabu, 15 Februari 2017

Nina


Hujan itu datang lagi,

Tapi bagi Nina itu bukanlah penghalang untuk bertemu dengan sang pujaan. Baginya, Hujan adalah moment yang romantis untuk tidak di lewatkan.

Padahal ini bukan jadwalnya ia bertemu dengan sang pujaan.
harap-harap cemas, melihat rintik hujan di balik jendela, ia berharap sang hujanpun berpihak padanya kali ini untuk tidak datang terlebih dahulu.

Segera Nina menyiapkan pakaian dan buah tangan hasil karyanya, transpirtasi online pun sudah ia pesan agar sesegera mungkin ia datang sebelum hujan.

Berdoa dan terus berdoa,

Nina langsung beranjak dari kamar. Sepeda motorpun melaju kencang, bukan Nina yang memintanya, tapi sang pengemudi yang berinisiatif melaju kencang. Nina bahagia dibuatnya, sesederhana itu ia merasaka bahagia.



Di Kedai Kopi

Setapak Nina berjalan menuju tempat Joe bekerja, dengan ramah Nina menyapa tukang parkir di depan kedai Kopi, senyum ramah membuatnya Nina tampa akrab dengan lingkungan di sekitar. Kang Erik, security di tempat Joe sudah paham betul dengan kedatangan Nina, pasti untuk bertemu dengan Joe.

Perlahan Nina menuju ke Arah Joe, dengan manis mereka berpapasan dan saling senyum. Joe sang Pujaan Hati Joe, dan Nina yang dicintai Joe. Bahasa isyarat mereka sudah di pahami satu sama lain. Jadi tak ada percakapan panjang antara mereka berdua. Nina langsung duduk manis menghadap tempat Joe bekerja, tanpa kata. Mereka sudah saling mengerti. Nina yang sabar dan Joe yang pengertian. Malam belumlah larut, Nina masih setia menunggu Joe sampai Joe selesai bekerja.

Di Kedai Kopi.


Kamis, 20 Oktober 2016

Bel Baru di Kamar





Hari ini aku terbangun dengan adanya suara salam dari balik pintu,
salam yang tidak biasa aku dengar, bahkan suara salam itu adalah suara laki-laki
melengking ditelinga.

Suara yang tidak enak didengar dan membuatku pengang rasanya.
segera saja aku beranjak dari kasurku,
aku buka pintu dan clingak-clinguk mencari berasal dari mana suara itu.

Tak lama kemudian, suara itu kembali terdengar
ternyata, ada bel di balik jendela kamarku
aku langsung saja memanggil ibuku dan langsung turun ke bawah

Aku tanya pada ibuku,
“bu, ibu yang taruh bel di jendela kamar?” tanyaku heran
seketika ibuku menahan tawa dan sambil memencet bel kamarku dari bawah
aku tertawa bersama pagi itu..

Setelah selesai mandi, aku kembali ke kamar
belum selesai aku merapihkan jilbabku,
ibuku sudah kembali memencet bel lagi hahaha

Aku langsung turun kebawah dan bertanya “ada apa bu?”
ibuku menahan tawa lagi, lalu ia bilang “gak apa-apa Cuma takut kamu telat ke kantor”
‘plaaaaakkk’ rasanya bel itu menjadi mainan baru ibuku,
sungguh jail sekali ia, hahaah tapi tak mengapa
kalau itu membuatnya bahagia, aku rela menjadi korban kejahilannya

Minggu, 04 September 2016

Senja


aku suka sekali dengan senja
setiap ia akan datang, aku menyambutnya dengan riang
mengabadikan setiap keindahan warna jingganya dan juga cahayanya yang hangat

dari senja aku belajar
belajar untuk menjadi indah walaupun ia akan tenggelam
tetap memberikan warna untuk semua orang walaupun ia akan hilang
aku belajar dari warna jingganya
ia selalu membuat orang-orang mengenangnya walaupun sudah tenggelam

dari senja aku belajar ...

Sabtu, 03 September 2016

Bebas yang seperti apa??





Bebas...

Semua orang di dunia ini pasti inigin kebebasan..
kebebasan dalam berkarya
kebebasan dalam hidup
kebebasan dalam berekspresi
kebebasan dalam mengungkapkan sesuatu
kebebasan dalam menggapai cita-cita
kebebasan dalam bergaul dengan siapa saja
kebebasan dalam berbicara
kebebasan untuk pergi kemana saja
kebebasan untuk mencari kebahagiaan dan...
kebebasan untuk diri sendiri

Tidak pernah ada yang salah seseorang dalam mendapatkan kebebasan
setiap orang menuntuk kebebasan..

Bahkan negara-negara yang saat ini jajah sangat ingin sekali bebas dari teror-teror yang setiap siang dan malam selalu menghantui wilayah mereka.

Mereka menginginkan bebas seperti burung yang dapat terbang bebas kemana saja, bahkan mereka bisa keliling dunia tanpa memikirkan keluarga.

Mereka menginginkan kebebasan.

Aku setuju kalau setiap orang memiliki hak untuk bebas,
aku yakin semua orangpun tidak menginginkan adanya aturan-aturan

Misalnya saja seperti anak-anak yang menuntut kebebasan kepada orang tuanya untuk selalu bermain tanpa harus belajar dan sekolah

Akupun setuju bahwa setiap jiwa memiliki kebabasan. Tapi apakah kebebasan itu membuat kita lupa akan segalanya? Melupakan bahwa kita memiliki sesuatu yang berharga? Misalnya saja kita bebas tanpa aturan rumah yang kerap kali membuat kita gerah dan rasanya ingin keluar rumah saja. Bermain, berkumpul dengan teman sebaya.
Misalnya saja kita bebas tanpa aturan lalu lintas yang membuat kita kerap kali kesal dengan aparat negara yang selalu membuat aturan seenaknya saja.
Misalnya saja kita bebas tanpa adanya aturan jam kerja kantor yang membuat kita terbirit-birit datang tepat waktu berangkat ke kantor.
Misalnya saja istri yang bebas pergi kemana saja dan dengan siapa saja tanpa harus pamit dengan suaminya.

tapi apakah dengan kebebasan yang kita miliki kita bisa memiliki semuanya? Kesenangan tanpa adanya aturan, tanpa ada larangan, tanpa ada batasan. Semua orang bisa bebas melakukan sesuka hati mereka tanpa memikirkan bahwa kebebasan yang mereka miliki selalu di salah gunakan.

Bebas bukan berarti liar dan melupakan aturan.

Aku selalu menuntut kebebasan kepada orangtuaku yang selalu menentang bahwa aku harus pulang paling lambat jam sepuluh malam. Tapi aku selalu meyakinkan mereka, bahwa kebebasan yang mereka berikan padaku bukan berarti aku harus bertingkah liar dan seenaknya. Mereka percaya bahwa dengan kebebasan yang mereka berikan adalah untuk sesuatu yang bermanfaat.
kedua orangtuaku selalu mengingatkan bahwa kebebasan yang aku dapatkan pastilah memiliki batasan.
Apa batasannya?
Batasannnya adalah aku harus ingat orang-orang yang ada disekelilingku,
bahwa mereka punya hak untuk mendapatkan waktu untuk bersamaku walaupun aku sibuk dengan kebebasanku.
Aku bebas pergi kemana saja, aku bebas mendaki gunung mana saja, aku bebas bermain dengan siapa saja, aku bebas kerja dimana saja, aku bebas dalam mengungkapkan sesuatu kepada kedua orangtuaku,
tapi kebebasan yang aku miliki pastilah punya “pagar” agar aku selalu ingat bahwa mereka punya hak untuk waktu yang aku habiskan.
Karna aku pun tidak suka di atur-atur, aku meyakinkan orangtuaku bahwa kebebasan yang mereka berikan padaku haruslah memiliki nilai positif untuk diriku dan juga untuk orang lain. Aku bebas pergi kemana saja dan dengan siapa saja, satu yang mereka minta padaku adalah menjaga kepercayaan mereka dan membagi waktuku dan membagi waktu untuk orang-orang disekitarku. membagi waktu untuk teman-temanku bermain,
membagi waktu dengan orang yang ada disampingku,
membagi waktu untuk jiwaku
membagi waktu untuk ragaku yang seharian aku pakai untuk bekerja atau untuk bermain.
Karena orang disekitarku pun memiliki hak untuk waktu yang aku habiskan karena kebebasanku.

Bebas memang selalu identik dengan “terserah saya mau berbuat apa, pergi kemana saja dan pergi dengan siapa saja”

Tapi mereka lupa dengan hak orang-orang yang ada disekitar .

Aku setuju bebas ada batasannya.

Bebas punya batas, seperti orangtua yang memberi kebebasan dengan batasan tidak boleh bermain lebih dari jam sepuluh malam, tidak boleh berbicara kasar, tidak boleh berbuat jahat. Kalau anak-anak diberikan kebebasan bermain tanpa ada batasan, maka anak itu akan terus bermain sampai ia puas dan tidak memikirkan pendidikannya, kalau mereka dibebaskan untuk pulang kapan saja, maka kita yang dibebaskan akan pulang lebih dari jam duabelas malam bahkan kalau perlu tidak pulang, kalau mereka dibebaskan berbicara apa saja tanpa ada batasan, maka mereka akan berbicara kasar kepada siapa saja tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.

Arti bebas menurutku adalah bebas melakukan apa saja, bertindak apa saja, pergi kemana saja tapi bebas tetap punya batasan, tetap mengikuti aturan dan menghargai orang-orang yang ada di sekitar