Selasa, 24 Mei 2016

Menjadi Relawan Komunitas Filantropi Pendidikan ( MI Ciherang - Pandeglang )




“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain”
 – Muhammad shallahu’alaihi wa sallam-  

Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku ketika aku menjadi seorang Relawan Pendidikan di suatu daerah yang lumayan jauh dari keramaian kota. Ciherang-Pandeglang. Sebenarnya waktu itu aku sudah merencanakan pendakian setelah dari Argopuro kemarin bersama Agita, tapi kami mengurungkan niat kami karena mengingat membludaknya pendaki ketika liburan panjang seperti ini, apalagi saat 17 Agustus nanti. Pasti banyak orang yang ingin merayakan hari kemerdekaan itu di atas puncak gunung. Berfoto bersama sang Saka lalu memamerkannya melalui sosial media.  Sampai akhirnya aku diajak Agit untuk mengikuti kegiatan yang bermanfaat ini dari Komunitas Filantropi Pendidikan. sebelum aku tepilih menjadi seorang relawan, aku harus mengisi biodata dan alasan kenapa aku bersedia menjadi relawan Pendidikan di MI Ciherang-Pandeglang. Aku membuka web KFP dan mencoba untuk menuliskan alasan mengapa aku ingin ikut serta dalam kegiatan 17 Agustus ini di Ciherang. Aku sangat pesimis kalau nantinya aku tidak terpilih menjadi relawan, aku yakin banyak alasan-alasan dari relawan lain yang  berkualitas dan pantas untuk diajak melakukan kegiatan yang bermanfaat ini. sampai akhirnya aku mendapatkan balasan email dari KFP dan namaku terpampang sebagai relawan terpilih untuk kegiatan 17 Agustus ini. Agit juga memberitahu kalau aku terpilih bersama dia dan juga Hanis. Aku mempersiapkan apa saja yang akan aku bawa selama tiga hari di Ciherang nanti.

Setelah menyepakati dimana aku dan kawan-kawan dari KFP untuk bertemu, akhirnya aku memilih untuk bertemu di pintu tol Balaraja Barat. Dengan pedenya aku menghampir mobil Elf berwarna putih, padahal sebelumnya aku belum pernah bertemu dengan mereka. Aku langsung masuk kedalam mobil, mengucap salam dan menanyakan dimana Agit? Dan suara laki-laki dari kursi belakang bilang kalau Agit tidak ikut karena sakit tifus. Memang beberapa lalu ia sempat bilang kalau kondisi badannya belum pulih. Aku sedikit kesal saat itu karena aku merasa di tipu olehnya agar aku hanya jalan sendiri. Tidak ada yang sama sekali aku kenal.  Sepatah dua patah terkadang aku ikut ngobrol dengan orang-orang yang ada di mobil tapi aku lebih banyak tidur dan diam selama perjalanan sampai ditempat yang di tuju.

Kami telah sampai di suatu Desa, dimana Desa itu sangat gelap dan hanya ada beberapa lampu yang menerangi beberapa rumah saja.  Kami langsung menghampiri rumah warga yang sudah di siapkan untuk kami beristirahat. Dirumah itu juga sudah di siapkan teh manis hangat dan beberapa gorengan untuk kami sarapan. Teman-teman baruku lebih memilih untuk melihat-lihat kondisi sekolah di sebelah selatan desa ini dan tidak jauh dari rumah yang kami singgahi. Tapi aku lebih memilih untuk tidur saja. Mataku sudah tidak kuat menahan kantuk dan untung saja, ada Rani yang juga lebih memilih tidur. (relawan macam apa aku ini)

 Setelah beristirahat dan memejamkan mata sebentar, kami kembali menuju suatu tempat yang akan menjadi tempat singgah kami untuk tiga hari dua malam ini. dengan menggunakan mobil Elf dan mobil APV kami menyusuri jalanan yang jaraknya antara ± 5km dan harus melewati perkebunan sawit dengan jalan yang rusak dan membutuhkan waktu selama  ± 1,5jam. Menurut cerita dari guru relawan SGI, mba Ulfa namanya jalanan ini kalau hujan akan tergenangi air, bahkan kalau sudah sampai puncaknya, bukan air lagi yang menggenangi jalan ini, melainkan lumpur. Memang di desa ini sangat sulit sekali dengan air karena resapan air yang begitu kuat dari si pohon sawit ini. menurut Mba Erna, salah satu relawan yang ikut juga bahwa pohon sawit adalah pohon yang menyerap air lebih banyak. Tanahnya pun kalau sudah di cabut tidak bisa lagi dipakai untuk tanaman lainnya. Harus menunggu beberapa tahun supaya bisa di pakai lagi. Memang sih memiliki perkebunan sawit ini hasilnya sangat menguntungkan tapi perkebunan sawit ini juga merugikan banyak orang contohnya saja desa Ciherang ini. mungkin hampir 200 hektare desa ini hampir tidak ada air. hanya beberapa rumah saja yang tersedia air, dan itupun hanya mereka yang memiliki uang lebih.

Setelah sampai rumah kepala sekolah SD MI Ciherang, kami langsung beristirahat sebentar. Dirumah kepala sekolah juga kami disediakan minuman dingin dan beberapa makanan. Rumah kepala sekolah ini menurutku sudah agak mendingan dibanding dengan rumah yang tadi. Dirumah kepala sekolah terdapat tiga kamar, dua di depan dan satunya lagi di belakang dekat dapur. Kalian jangan membayangkan kalau rumah kepala sekolah ini besar, jauh dari ekspektasi yang kalian bayangkan. Beratapkan genteng yang lumayan untuk melindungi penghuninya dari hujan dan badai dan juga di lapisi dengan bilik bambu agar terlihat sejuk.  Dapurnya sangat luas dan ehmm. .. kamar mandinya hanya tertutup setengah badan. Jadi kalau mau mandi harus menutupnya lagi sebagian agar tidak kelihatan hehe.

Setelah selesai membersihkan badan, kami langsung di giring ke aula. Waktu itu aku hanya mengenal beberapa relawan saja, seperti Mba Erna, Mba Fido, Teh Jani, Mas Faruq, Mas Angger (ketua KFP), Mba Eni dan juga Rani. Diruangan itu kami membicarakan tentang proker yang akan di jalankan untuk enam bulan kedepan. Aku tampak kaget dan sedikit kesal dengan Agit yang tidak memberitahuku tentang hal ini. ia hanya bilang aku hanya menjadi relawan saja (titik). Tapi yasudah, sudah terlanjur basah dan di awali dengan pemilihan ketua dan mas Faruq yang menjadi ketua terpilih, lalu membicarakan tentang program kerja yang akan dijalankan selama enam bulan mendatang.  

Setelah selesai membicarakan tentang proker tadi, kami beristirahat dan menikmati suasana di Desa Ciherang ini. desa ini masih kelihatan lugu dari campur tangan orang-orang yang menganggap dirinya pintar dan bisa membodohi orang-orang lugu di desa, padahal sebenarnya orang seperti itulah yang sebenarnya bodoh dari pemikiran. Desa ini tidak ramai dan sangat menenangkan, dan desa ini pula harga sembako tidak semahal di kota.

Aku kira, rapat tadi siang sudahlah berakhir. Ternyata masih ada episode kedua untuk membicarakan tentang persiapan lomba adik-adik esok hari. Membicarakan siapa yang akan jadi panitianya, siapa yang akan menjadi moderator dan siapa pula yang akan menjadi supporter (loh gak ada yah hheheu). Ada untungnya juga aku mengikuti acara seperti ini. ternyata orang-orang yang ikut dalam kegiatan ini adalah orang hebat. Ada bu Fadlun blogger aktif, ada Rani yang juga sama seperti bu Fadlun, ada Mas Angger founder KFP, ada Mba Erna guru biologi yang inovatif,ada mba Ghina,  ada mba Fido seorang planner, ada mba Dila dan teh Jani yang turut serta membantu Dompet Duaffa, mba Eni yang juga pernah menjadi guru di Indonesia Mengajar, dan ada mas Faruq ketua KFP yang aku tidak bisa sebutkan satu-persatu prestasinya. Yang aku tau beliau adalah lulusan UNPAD haha.

Setelah mempersiapkan  hadiah dan juga bingkisan yang sudah kami bungkus. Kami langsung beristirahat untuk mempersiapkan tenaga besok pagi.

Minggu,16 Agustus 2015

Pukul 08 aku dan kawan-kawan sudah sampai di lokasi SD MI Ciherang. Terlihat banyak anak-anak sekolah yang sedang bermain dan menunggu kami untuk memulai perlombaan. Saat aku mulai masuk ke lingkungan sekolah, anak-anak yang sedang bermainpun seketika menghampiriku dan langsung meraih tanganku untuk memberikan salam. Aku di kerubuti mereka, satu-persatu mereka mengantri untuk bersalaman. Aku merasa aku tampak seperti seorang guru yang baru saja pulang ke kampung halaman.  Mereka tampak riang dan bahagia melihat kami datang. Dan ada salah satu anak murid yang mengikutiku, entah kenapa rasanya ia akrab sekali denganku.  

Saat aku mulai memasuki lingkungan sekolah yang hhwwwaaaaaww membuat aku ingin menangis, membuat rasanya aku adalah manusia yang kurang bersyukur ketika sekolah dulu. Kalian tahu seberapa ambruknya sekolah SD MI Ciherang??? Sangat memprihatinkan.

Atap-atapnya yang sudah bolong, temboknya tampak rapuh dan ditambal dengan bilik bambu yang... menurutku juga sudah tidak layak pakai, lantainya tanah dan sungguh membuat hati meronta.  Tapi aku kagum dan salut dengan anak-anak yang bersekolah disini. Mereka bisa dengan ikhlasnya belajar dalam kondisi sekolah mereka yang seperti ini.







Setelah kami siap mempersiapkan perlombaan. Satu-persatu para murid pun mendaftar di bantu dengan Pak Sapto, Mba Ulfa dan Pak Hery guru relawan dari Sekolah Guru Indonesia. Mereka masih tampak muda, aku sangat kagum dengan mereka. Di usia mereka yang masih muda, mereka sangat peduli dengan Pendidikan di Indonesia. Mereka rela meninggalkan rumah demi untuk mengajar anak-anak di sekolah terpencil ini, membagi ilmu mereka dengan ikhlas tanpa meminta imbalan.

Anak-anak yang mengikuti perlombaan ini tampak riang dan bahagia. Mereka tertawa lepas tanpa memikirkan sekolah mereka yang memprihatinkan. Mereka menikmati setiap detik, menit, dan sampai lupa kalau tubuh-tubuh mungil mereka terbakar oleh teriknya matahari. Mereka asyik berlomba makan kerupuk yang mereka kunyah dengan menggunakan tali yang digantung, lomba balap karung, lomba memasukkan paku dalam botol dan lomba kelereng yang di taruh di sendok. Mereka tampak bahagia. Sangat bahagia...









 Senin ,17 Agustus 2015

Hari itu, dimana kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk upacara Sang Saka dan juga sudah menyiapkan seragam yang akan kami kenakan ketika upacara bendera. Sayangnya, Rencana Tuhan berkehendak lain. Aku terserang alergi yang sangat unik. ‘alergi semut’!!! ya!! Aku alergi semut setelah aku menumpang mandi di salah satu rumah warga. Tubuhku semuanya bentol, dan hampir tak sadarkan diri karena alergi semut yang sangat kuat. Seketika tubuhku menjadi dingin. Dan aku langsung di bawa lari ke Rumah sakit terdekat oleh Mas Angger, Teh Jani dan Pak neming.  Sampai aku memuntahkan apa yang ada di dalam isi perutku. Sedih rasanya aku tidak bisa mengikuti upacara bendera bersama anak-anak yang bersemangat menyorakkan kemerdekaan.

Dan aku berterima kasih kepada teman-teman yang sudah membantuku pada waktu itu.

Dan juga aku berterima kasih kepada Agita yang menjebakku masuk kedalam ruang lingkup orang-orang hebat ini. kegiatan ini sangat bermanfaat untuk orang-orang yang harus banyak bersyukur. 




"berbahagialah orang-orang yang hidupnya selalu menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, berbahagialah orang-orang yang hidupnya dengan mudah membantu orang lain, sebab mereka adalah orang-orang yang benar-benar Bahagia"


 oh iya, SD MI Ciherang sekarang sudah di renovasi. sudah bagus dan nyaman untuk belajar adik-adik kita disana. semoga semangat belajar mereka selalu hadir menemani mereka belajar dan apa yang mereka cita-citakan tercapai :)


Senin, 23 Mei 2016

Bersepeda yang menyenangkan



Bersepeda adalah salah satu olahraga yang aku gemari. Selain menyehatkan badan, bersepeda juga bisa membuat otot-otot menjadi kuat.

Kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku yang masih abal-abal ketika aku bersepeda melewati jalur yang berkelok-kelok dan juga tanjakan.

Liburan kemarin (entah kapan) aku mengunjungi kakak ku yang ikut dengan suaminya di Cianjur. Ya kau tahu Kota Cianjur kan? Sini aku ceritakan. Cianjur adalah salah satu kota kecil di Jawa Barat setelah Sukabumi. Untuk sampai sana, kamu akan melewati puncak yang macetnya ampun-ampunan. Waktunya kurang lebih adalah ehmm sebentar aku pikir dulu.... semenit.. dua menit.. tiga menit.. tujuh jam perjalanan kalau berangkat dari rumahku yang jauhnya bukan main. Mau tahu rumahku? Ah tak usah nanti kamu akan sering apelin aku tiap malam. Tapi jangan khawatir, selama perjalanan menuju cianjur, kamu akan melewati puncak yang sejuk suasananya sehingga rasa penat selama di perjalanan akan terlupakan.

Sebelum aku memulai perjalananku bersepedah mengelilingi kota cianjur, aku menyiapkan energiku terlebih dahulu. Tidur!! Aku biasanya bersepedah pagi-pagi tapi kali ini aku bersepedah sore-sore.
setelah menyiapkan energi, aku siapkan sebotol minum dan juga cemilan sebagai perbekalan. Aku tahu jalan yang aku lalui nanti. Kalau kau? Nanti saja aku ceritakan.

Setelah menyetting ransel dan juga perbekalan, mulai ku kayuhkan sepedaku perlahan.perlahan-lahan jalan mulai tanjakan dan aku sudah tak tahan.
aku berdiri-berdiri mengayuh sepeda itu. . toko-toko yang ada di pinggiran mulai melihatku dengan serius. Mungkin aku seperti atlet bersepeda? Hahaha aku mesam-mesem tak karuan.

Aku melewati asrama TNI yang wajahnya tampan, eh kau jangan cemburu tetap saja hanya kamu yang aku cinta.
angin semriwing membuat keringatku yang mulai bercucuran ini, harus hilang karena si angin yang lewat tadi.

Aku menyusuri jalanan kota cianjur yang tidak macet, jalanan renggang, tenang, tak ada suara bunyi klakson dan juga suara triakan-triakkan yang memekikkan.

tukang-tukang dagang pinggiran jalan membuat aku ingin rasanya berhenti dan ingin jajan. Tapi aku urungkan niat dan melanjutkan berjalanan menyusuri tempat-tempat yang sepi dan juga menenangkan.
Kanan kiri rumah sudah mulai habis, aku hanya bertemu dengan sapi-sapi, kambing-kambing yang mengembik, ayam-ayam yang mulai keok dan banyak ternak hewan lainnya. Aku menyusuri jalan lurus yang tiada habisnya, hanya ada sawah dan perkebunan jagung dan juga warga yang sedang berkebun. Aku masih mengayuh sepeda sampai akhirnya tembuslah di kota.

Setelah sampai di kota, aku menemukan rentetan tukang jualan makanan yang berbagai macam rasa dan bentuknya, ada mie ciyus, ada lumpia basah, ada seblak, dan juga ada sate maranggi.  Tapi aku memilih mie ayam (loh kenapa tidak memilih makanan yang disebutkan tadi?” suka-suka aku dong) setelah melahapnya perlahan dan aku mulai kenyang. Akhirnya aku kembali pulang ditemani senja dan matahari yang mulai tenggelam. Ah
terbayarkan sudah rasa lelahku






Berebut Pisang





Sabtu kemarin, aku mengantar ibu kepasar seperti biasanya
Biasanya pula, aku meminta jatahku untuk tiga buah jeruk nipis
tiga buah jeruk nipis ini, aku peras setiap malamnya
dengan air panas aku tenggak perlahan. Tapi,

Sabtu ini ibu tidak memberikanku jeruk nipis, melainkan dua sisir pisang
satu sisir pisang yang sudah matang dan satu sisir pisang yang belum matang
satu sisir pisang untuk aba’ku, dan satunya lagi untuk diriku
Setelah sampai dirumah, ibuku menghidangkan satu sisir pisang yang sudah matang

lalu aba’ melahapnya perlahan,
satu satu ia makan,
keluar pintu ambil satu pisang,
masuk rumah ambil lagi satu pisang
keluar masuk ambil dua pisang
sampai habis pisang itu di makan

Aku bertanya pada ibu,
“bu kemana pisang-pisang tadi yang ibu beli?”
ibu menjawab “bapakmu yang habiskan”
“lalu aku tak kebagian?” tanyaku lagi
“kebagian, dengan yang belum matang. Itu ibu sisakan”

Dua hari setelah pisang-pisang aba’ku habis,
dan pisang-pisangku mulai matang.
tenyata masih belum puas ia memakan pisang kepunyaanku
pisang untukku di gantung di sebelah tangga 

aba’ku sudah melirik-lirik dan mencubit-cubit apakah pisang sudah matang
aku bilang pela-pelan “awas saja kalau sampai pisang-pisangku dimakannya”
Benar saja! Satu pisang setengah matang ia makan,

aku kesal.
aku bawa lari ke kamarku pisang-pisang itu
lalu..

Aba’ mencarinya.
dan kini pisang itu sudah di tanganku
agar aba’ tak melahapnya lagi tanpa kenyang.

Merindu Senja





Beberapa hari ini aku tidak melihat indahnya senja,
aku tidak melihat pancaran sinarnya yang jingga
hujan turun sangat deras, suara petir seakan triak-triak menampakkan amarahnya.
kemana kau senja?

Apakah kau bersembunyi dibalik gelapnya awan hitam?
Apakah kau bersembunyi dibalik riuhnya hujan?
Aku rindu hangatmu, warna jinggamu, kemerah-merahanmu
Dan cahaya yang membuat bayanganku semakin pekat.
Kembalilah senja..
Hari ini padahal aku sudah bahagia dengan tanda-tanda matahari yang sebentar lagi tenggelam

Tapi...

Awan hitam mulai mengerang bahwa kau tidak boleh datang.

Tapi..

Ternyata aku salah sangka pada awan hitamnya
Ia membawa kesejukkan ditengah keganasan panasnya siang,
Ternyata aku salah sangka pada awan hitam,
Ternyata di balik awan hitam ada kedamaian dan
Membuat bumi ini semakin hidup, sehingga aku masih bisa
Menikmatimu ..
Senja.. kapan kau akan datang??
Aku tunggu kau di pelataran.


Minggu, 22 Mei 2016

Sarjana Hukum yang Kreatif




Bagaimana rasanya ketika kamu adalah seorang yang kreatif tapi kamu salah ambil jurusan ketika kamu kuliah? Ehmm... misalnya kamu menganggap bahwa separuh ruh mu ada di dunia broadcasting, sementara orangtua menyuruhmu untuk mengambil jurusan hukum.  Rasanya memang bertentangan dengan apa yang kamu inginkan ya. Dan kamu merasa khawatir kamu tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanmu walaupun sebenarnya kamu di takdirkan sebagai Sarjana Hukum. Mungkin hal itu terjadi pada diri saya sendiri. Saya merasa, saya adalah tipikal orang yang lebih mengkreasikan diri saya dalam hal pekerjaan dan merasa bahwa saya adalah orang yang kreatif. Saya suka menulis, suka membuat sketsa, dan saya suka dengan dunia photografi. Namun dengan begitu walaupun saya menyukai pekerjaan yang lebih menggunakan  kreatifitas, kreasi dan inovasi, tittle S.H masih melekat pada nama saya di belakang. Saya juga tidak melupakan pelajaran-pelajaran tentang hukum yang saya dapati selama duduk di bangku kuliah.  Sangat aneh memang tapi bagi saya hal itu sangat menyenangkan.

Saya adalah seorang Sarjanan Hukum yang memiliki kemampuan diluar pendidikan yang terakhir saya ambil. Ya! Saya adalah seorang Sarjana Hukum yang kreatif dan pandai berkreasi. Saya mengetahui kemampuan saya, ketika saya lulus kuliah dan memang saya adalah seorang yang suka menulis tapi pada waktu itu belum terlalu saya tekuni, saya suka menggambar dan waktu itu pula belum saya tekuni, sampai pada akhirnya saya merasa bahwa saya harus menekuni keduanya agar saya bisa mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan dan agar saya bisa ber kreasi dan kreatif dalam bekerja nanti.

Menulis juga bisa melatih ketelitianmu loh. Misalnya ketika tulisanmu telah selesai dan harus di edit, maka kamu harus memperhatikan kata yang salah dan huruf-huruf yang sering tertukar. Kalau masih ada kata yang salah ketika kamu sudah mengeditnya, artinya kamu adalah orang yang kurang teliti. Menulis  dan menggambar menurut saya adalah suatu hobi yang bisa membawamu kepada kesuksesan jika kamu menekuninya dengan sabar. Dengan menulis, kamu bisa saja sambil menggambar imajinasimu ke dalam tulisan. Kamu bisa menjadi seorang content writer, copy writer atau bisa saja menjadi seorang novelis yang di dalamnya terdapat gambar-gambar hasil kreasimu dan tidak perlu lagi menyewa orang untuk menggambarkan imajinasimu. Dan itu termasuk dalam pekerjaan yang kamu kreasikan sendiri.
Menjadi orang yang kreatif adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Biasanya ide-ide kreatif datang tanpa di duga-duga. Entah ketika kamu sedang traveling, entah ketika kamu berkumpul dengan teman-teman, entah ketika kamu sedang melihat jendela kantor, entah ketika kamu sedang menunggu kereta, atau mungkin saja ide kreatif itu bisa muncul ketika kamu sedang di perjalanan pulang kerumah. Dan ide kreatif itu bisa saja kamu tuangkan dalam pekerjaan. 

Menurut saya, memiliki pekerjaan yang sesuai dengan hati nurai seperti memilih jodoh. Kamu harus mencintai pekerjaanmu dengan ikhlas. Sebab, bekerja tidaklah hanya mencari uang saja. Tapi bekerja haruslah menyenangkan, sehingga pekerjaan yang kita jalani pun akan memiliki hasil dan memuaskan. bukan hanya itu saja, bahkan uang yang di dapatkan bisa jadi karena pekerjaan yang menyenangkan. Bukankah seperti itu?
Jadi, janganlah takut ketika kamu salah ambil jurusan waktu kuliah dulu dan baru mengetahui kemampuanmu setelah lulus kuliah. Teruslah berusaha, menekuninya dan belajar. Belajar tidak harus berada diruang kelas kok. Belajar itu dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Sebab semua orang yang kamu temui adalah guru.  Dan untuk pekerjaan yang kreatif ini kamu membutuhkan kesabaran yang lebih lagi. Teruslah Semangat dalam mengembangkan kreatifitasmu ya!

Jumat, 20 Mei 2016

Arti Turun Tangan #aksituruntangan




Turun Tangan menurut saya adalah sikap yang harus diambil seseorang demi suatu urusan yang harus di selesaikan, dimana suatu urusan tersebut melibatkan orang banyak terlebih dalam hal ini adalah masalah sosial.

Turun tangan bagi saya juga berarti menyelami issue sosial itu seperti apa dan bagaimana. Sehingga dengan begitu saya dapat menyumbangkan pendapat bagaimana caranya menyelesaikan masalah tersebut. ketika ikut turun tangan saya merasa memiliki tujuan yang sama dengan orang-orang yang juga ikut turun tangan dengan masalah-masalah sosial yang ada. Bagaimana goalnya dan mengetahui seluk beluk dari suatu kegiatan tersebut baik kekurangan ataupun kelebihan agar suatu kegiatan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Turun tangan juga berarti merasakan secara langsung, menebak dan memecahkan teka-teka dari berbagai problematika yang ada. Ikut andil dan menjadi bagian dimana kita ikut merasakan dampak dari suatu ketidak adilan dan berusaha untuk ikut dalam meluruskan permasalahan.
turun tangan juga berarti ikhlas. Ikhlas meluangkan waktu dan pikiran, ikhlas dalam mecurahkan separuh tenaga, ikhlas dalam materi yang akan kita berikan kepada orang yang akan kita bantu, dan ikhlas memberikan senyuman. Sebab mengikhlaskan sesuatu tanpa senyuman sangatlah tidak membahagiakan. Dengan senyuman, kita merelakan sedikit kebahagiaan yang kita dapatkan untuk orang yang berada disekitar kita. Dan arti turun tangan menurut saya adalah berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi untuk mencurahkan pikiran, berbagi kasih sayang, berbagi cinta, berbagi cerita, dan juga berbagi kebaikan sebab kebaikan adalah pertanda hati yang penuh cinta. Turun tangan menurut saya juga memberikan kesempatan diri sendiri agar hidup lebih berarti untuk orang lain termasuk kepada negara sendiri dan hidup akan selalu penuh makna jika hati kita selalu memberi.

Dan inilah saatnya  saya ikut turun tangan. Saya tidak ingin menjadi orang yang apatis ataupun hanya mengikuti arus. Saya adalah generasi  yang akan menjadi tombak dan masa depan negara. Sebab, mencintai negara sendiri sama saja mencintai diri sendiri. Sebab dengan turun tangan adalah salah satu cara saya ikut berkontribusi dan membantu dalam proses kemajuan negara sendiri walaupun nantinya saya akan dilupakan. Seperti buku yang pernah saya baca “Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie” mengatakan, ‘biarlah kita dilupakan sebagaimana bunga dilupakan”

“Hidup adalah kesempatam untuk menyumbangkan cinta dengan cara kita sendiri” –bernie siegle,M.D-  dalam chicken soup fot the soul at work

Listianingrum yang biasa dipanggil Listy. Anak ketiga dari Ibu Bapak yang dilahiran dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan yang tanggal kelahirannya beda satu hari dengan Soe Hok Gie. tanggal 18 Desember 1993 ketika dimana Indonesia sudah Merdeka.