Minggu, 03 Juli 2016

Awal mula mengenal dunia Pendakian


my best shoes



Kali ini aku akan menceritakan awal mula aku menyukai dunia pendakian.

Sebelumnya aku akan ceritakan lebih dulu kenapa aku suka mendaki gunung. Jadi dulu, waktu aku masih sekolah SMP aku membaca novel 5cm yang aku pinjam dari teman kampus kakak ku, awalnya aku memang tidak menyukai membaca, tapi setelah aku baca halaman tengah dari cerita 5cm, aku langsung tertarik dan penasaran ingin membacanya. Sampai akhirnya, ada satu bagian cerita yang menceritakan tentang pendakian dan keindahan alam Ranu kumbolo. Imajinasiku terpancing untuk membayangkan bagaimana indahnya pemandangan danau di tengah hutan seperti itu, waktu itu filmnya belum keluar dan aku belum mengenal yang namanya internet jadi aku bukan korban film. Hanya korban novel yang bermodalkan imajinasi sendiri hehe. setelah membaca novel 5cm, kakak ku selalu cerita tentang temannya yang suka mendaki gunung, sampai akhirnya akupun penasaran dan ingin diceritakan secara langsung oleh teman kakakku. Aku pun semakin tertarik untuk mendaki walaupun katanya mendaki gunung itu berbahaya. akhirnya aku mengikuti kegiatan Pramuka di sekolahku untuk mengambil ilmu bagaimana caranya kemping hehe.. setelah beberapa lama aku latihan Pramuka setiap minggunya, akhirnya aku terpilih sebagai anggota Teratai dan aku masuk dalam seleksi jambore di kecamatan dekat sekolahku. Singkat cerita akhirnya aku lulus SMP dan aku masih pensaran bagaimana rasanya mendaki gunung. aku selalu antusias dan bersemangat kalau aku disuruh menjemput kakak ku di kampusnya. Jelas saja aku bersemangat, sebab aku akan bertemu dengan teman-teman kakaku yang sudah expert dalam dunia pendakian. Aku selalu bersemangat mendengarkan cerita mereka ketika mendaki. ketika aku sekolah SMA, aku belum menemukan teman yang suka juga dengan pendakian. Aba’ku juga waktu itu tidak mengizinkan aku untuk pergi mendaki. aba’ bilang kalau mendaki gunung itu banyak yang hilang, seperti anak temannya yang hilang di gunung Slamet dan sampai saat ini tidak di temukan. Aba’ juga bilang, kalau di gunung itu banyak hantunya. Jelas saja aku takut. Sebab, aku memang takut dengan hal-hal goib seperti itu. tapi rasa takutku semakin membuat aku penasaran untuk terus mengenal dunia pendakian. Sampai akhirnya, ketika aku memasuki kelas 3 SMA , aku dipertemukan dengan teman-teman yang juga suka dengan kegiataan outdoor. Aku bertemu dengan Pras, Ade dan Enye. Akhirnya juga aku diajak untuk ikut kegiatan pecinta alam di sekolah oleh Pras waktu kelas 3 menjelang ujian. Awalnya aku malu untuk ikut kegiatan itu. tapi aku merasa mendaki itu bukanlah hanya sekedar mendaki. teman kakaku juga bilang, kalau hidup di alam liar itu sangatlah berbahaya apalagi kalau kita mengalami keadaan yang sangat darurat. Jadi tidaklah sembarangan.

Pendakian pertamaku adalah Gunung Pulo Sari. Nanti aku ceritakan bagaimana pengalaman yang tidak akan terlupakan itu.

Selasa, 28 Juni 2016

Tips Mendaki Gunung




 photo by : listy


Mendaki gunung itu menurutku adalah ... kegiatan yang tidak murah. Kenapa?

Karena terkadang nyawa kita yang menjadi taruhannya. Kenapa aku bilang nyawa yang menjadi taruhannya? Karena, mendaki gunung itu perlu perhatian khusus ,terlebih untuk diri sendiri dan juga teman mendaki kita. Mendaki gunung bukan hanya persoalan foto selfie, menikmati keindahan alam, ketawa ketiwi, bersenang-senang atau sesuatu hal yang merupakan kepentingan diri sendiri, memang tidak ada yang salah dalam hal itu tapi ingat sekali lagi. keselamatan. Mendaki gunung juga harus memperhatikan lingkungan sekitar contoh kecil yang sering kita abaikan adalah membuang sampah sembarangan.

Banyak sekali dari kita yang merasa bahwa kita adalah pecinta alam yang benar-benar melestarikan alam. Menurutku pecinta alam tidak merusak, aku tidak mau mengakui kalau aku adalah pecinta alam. Sebab aku sadar dalam diriku sendiri aku masih suka menginjak-injak rumput walaupun ketenaran rumput itu adalah rumput liar. Jadi kalau mencintai ya tidak merusak. Mengerti maksudku?

Mendaki gunung menurutku bukan hanya sekedar berbekal peralatan safety, tapi mendaki gunung juga harus berbekal ilmu. Iya ilmu bagaimana ketika kita menghadapi keadaan darurat. Seperti misalnya tersesat di hutan, apa saja yang harus di lakukan. Terserang penyakit ekstrim di gunung seperti hypotermia, bagaimana cara mengatasinya, bagaimana ketika persediaan makan habis lalu apa yang akan kita makan selain perbekalan yang dibawa dan masih banyak lagi.

Banyak yang bilang kalau mendaki gunung adalah menyerahkan nyawa, bertaruh nyawa dan lain sebagainya. Menurutku memang benar begitu. Mendaki gunung itu adalah 70% s/d 30% kita bisa kembali kerumah. Kalau niat kita mendaki saja sudah tidak baik, maka selama perjalananpun juga akan mengalami hal-hal yang tidak baik pula. Ingat jangan membuang sampah sembarangan atau melakukan hal konyol lainnya. 

Di zaman sekarang, banyak yang bilang kalau naik gunung itu adalah suatu kegiaatan yang “kekinian” tapi menurutku, pendapat seperti itu hanya untuk orang-orang yang hanya sekedar ikut-ikutan tanpa pengetahuan yang cukup.

Aku beruntung pernah menjadi anak sispala, walaupun dalam kurun waktu yang sangat singkat tapi setidaknya aku mengambil pelajaran dari sispala di sekolah. Bagaimana cara mengemas perlengkapan mendaki dengan benar, apa saja yang harus di persiapkan, makanan apa saja yang harus dibawa, bagaimana kalau kita tersesat di hutan dan bagaimana pula cara mengatasi orang yang terserang hypotermia. Tapi alhamdulillah aku beruntung sekali, sampai saat ini aku belum pernah mengalami tersesat parah dan mengalami penyakit yang parah pula.

Tips dariku untuk kegiatan mendaki ini adalah :

Pertama : mengantongi izin orang tua, sebab restu orangtua sangatlah penting agar perjalanan kita selalu di iringi dengan ridhonya.  berbekal doa dan jangan pernah lupa dengan Sang Pencipta. Sebab, kepada siapa lagi kita akan minta pertolongan dan perlindungan ketika tidak ada yang bisa menolong lagi??

Kedua : Pilihlah teman yang akan menemani perjalanan kalian ketika mendaki nanti. Sebab, memilih teman perjalanan yang baik adalah yang paling aman. Pilihlah teman mendaki yang paham betul terhadap dunia pendakian, jangan hanya karena mereka lebih memiliki perlengkapan safety saja, tapi pengalaman belum ada. Itu sangatlah sia-sia. nihil. ibarat orang tuna netra menuntun tuna netra lainnya. Temanmu harus paham bagaimana mengatasi situasi darurat di hutan sana. Karena di hutan tidak ada dokter, tidak ada supermarket tidak ada siapa-siapa. Semuanya serba manual. Untuk pendaki yang sangat baru atau biasa disebut newbie, kalian bisa berangkat dengan orang yang sudah berpengalaman dalam urusan pendakian. Tentunya harus juga paham situasi di gunung sana dan juga harus paham terhadap penyakit sendiri.

Ketiga : gunakan SOP pendakian. Perlengkapan pribadi sangatlah penting. Seperti ; Sleepingbag, Jacket, Trekkingshoes, Raincoat (jas hujan), headlamp, botol minum dan p3k.
perlengkapan vital seperti itu aku harap jangan sampai kalian lewatkan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di alam sana. Entah kita tersesat sendiri, tersesat dengan rombongan atau hal-hal aneh lainnya.

Keempat: bawa logistik pribadi. Maaf, bukannya aku mengajarkan kalian untuk pelit berbagi dengan teman kalian, tapi makanan pribadi itu sangatlah penting. Di awal perjalanan mungkin kalian akan selalu beriringan dengan rombongan, tapi ketika di pertengahan nanti. Apakah kalian akan selalu beriringan pula? Pengalamanku selama mendaki dengan banyak orang pasti di tengah jalan akan berpisah walaupun hanya beberapa meter saja. Makanya aku sarankan kalian untuk membawa cemilan sendiri. Aku pribadi, cemilan yang wajib di saku celanaku adalah madu, cokelat, lolipop dan minuman rasa-rasa tapi sekarang aku menghindari minuma yang ada rasanya. Ternyata itu penyakit, dan sudah aku buktikan ketika aku ke semeru bulan mei lalu. Kalau aku berangkat mendaki bersama orang terdekat, aku hanya membawa daypack dan isi daypackku full cemilan. Seperti biskuit cokelat, fitbar, bengbeng dan biskuit kecil-kecil lainnya.



Sedikit pengalaman dan cerita. Waktu aku masih kuliah dulu, aku adalah anak yang bisa dibilang ekstrim. Baru pulang kuliah aku sudah di telfon oleh temanku untuk pergi ke merbabu. Aku hanya berbekal ransel berisi buku dan undang-undang, jacket dan uang. Sesampainya di merbabu sana, aku tidur hanya menggunakan jacket. Menyiksa sih tapi kalian juga harus tau kondisi kalian ya kalau mau mencoba hal ekstrim seperti itu.  lebih baik jangan dicoba, bahaya hehee..

Dariku itu saja. Nanti aku lanjut ceritanya kalau aku sudah memiliki banyak pengalaman.
Keep safety!!

Senin, 27 Juni 2016

Pasar Tanah Abang Menjelang Hari Raya




beberapa waktu lalu sepulang dari rumah kiki, kalau tidak salah hari minggu tepatnya aku sengaja pergi ke Tanah Abang untuk membeli bahan yang akan aku jadikan khimar yang biasa aku pakai.
dengan menggunakan kereta Commuterline dari arah Taman Kota - Duri - dan tujuan akhir stasiun Tanah Abang.

sebenarnya aku sudah mengira kalau Pasar Tanah Abang nanti akan penuh sesak oleh para ibu yang akan berbelanja untuk hari raya nanti. Dan benar saja, baru turun dari stasiun duri, gerbong kereta sudah penuh, padat dan pengap. utung saja AC di dalam gerbong membantu kami semua yang berada di dalam untuk menikmati sebentar rasa dingin setelah berpanas-panasan tadi. dan untung pula aku sedang tidak tidak puasa karena si merah sedang berkunjung tiap bulan.

sesampainya di Stasiun Tanah Abang, aku langsung loncat menuju pintu keluar dan langsung men'tap' kartu multi trip yang aku punya. tahu kan kartu multi trip itu apa? baiklah kalau belum tahu aku akan kasih tahu sekarang. jadi kartu multitrip itu adalah kartu yang di gunakan untuk naik kereta tanpa harus di tukarkan lagi kepada loket ketika turun nanti. jadi menurutku kartu itu membantu pengguna kereta untuk menghemat waktu dan juga biaya yang di keluarkan. kalau habis? ya tinggal isi ulang saja saldonya. jadi gak usah antri lagi deh, begitu kurang lebih.

lanjut lagi ke cerita, iya jadi ketika aku baru saja turun dan keluar dari stasiun Tanah Abang, ternyata sudah penuuhh dan sangat ramai. sampai jalan raya di penuhi oleh ratusan orang yang akan berbelanja. bukan hanya kaum ibu saja yang ada disana, tapi kaum bapak pun ikut berbelanja demi mendapatkan harga yang murah untuk keperluan hari raya.

aku berjalan lurus ke arah barat Tanah Abang berharap menghindari jalan yang ramai dan penuh sesak, memang benar jalan yang aku pilih agak renggang, tapi sial! pas aku masuk gang menuju blok F dan blok A jalanan sudah padaat dan huuaaa aku berasa seperti sedang merasakan penderitaan orang-orang yang sedang berada di mina tahun 2015 lalu. semuanya penuh sesak dan sesak. panas dan penuh keringat. untung saja tidak ada laki-laki yang ikut mepet-mepet dalam formasi itu.



ada pula para ibu yang membawa anaknya sampai si anak merasa pengap karena terhimpit bokong besar ibu-ibu di depannya, suara riuh karena keluhan ibu-ibupun meramaikan tempat ini yang penuh sesak. menurutku datang kesini adalah resiko, resiko karena jalan yang berdempetaan, resiko karena rela berdesakkan, jadi tidak mengeluh kalau mau berbelanja disini. kalau tidak mau berdesakkan ya lebih baik tidak usajh saja datang kesini untuk mendapatkan harga yang murah. aku masih belanjutkan sabarku sampai aku sampai menuju blok A untuk membeli bahan. aku pikir kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? stok khimar ku sudah hampir habis dan aku bosan dengan warna yang setiap dua hari sekali hanya itu-itu saja.

ketika aku sudah hampir sampai menuju blok A, aku ingin kembali pulang dan mengurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan yang penuh sesak itu. tapi, pikiranku berubah, aku akhirnya membalikkan badanku untuk menyusuri jalan pintas menuju blok A. dan akhirnya sampailah aku di tempat penjual bahan.

tidak lama-lama disana, sebab aku sudah malas untuk banyak memilih. aku pilih saja warna yang sudah ada di imajinasiku tadi ketika aku berhimpitan dengan para ibu-ibu, kemudian khimarku aku langsung jahit setelah itu pulang.

ternyata penderitaanku bersama pengujung di tanah abang pun belum selesai.
aku memang melintasi jalan yang agak mulai renggang, aku bisa bernafas lega waktu itu.
tapi ketika aku akan kembali menuju gang arah stasiun??? daaaaanggggg!!!1 makin ramai dan ini tambah parah.
di tengah kemacetan yang berdesak-desakkan seperti itu, ada motor yang sedang berusaha untuk maju kedepan. aku memang agak kesal dengan motor itu, dan para pengunjung disana pun begitu. semuanya menghujat si pengendara motor, bahkan hampir saja adu jotos karena ulah si pengendara motor. aku hampir tidak mengerti, mungkin saja si pengendara motor itu adalah warga yang rumahnya dekat dengan pasar tanah abang?? ah positif thinking.

sampai akhirnya aku menemui gang yang menembus stasiun kereta.
tapi karena pengunjung yang membludak, sistem buka tutup seperti di puncak pun di terapkan. baiklah aku menunggu dan akhirnya aku naik kereta jurusan Tanah Abang - Parung. memang seharusnya kereta tujuanku adalah Tanah Abang - Maja. tapi melihat kondisi yang seperti ini sebaiknya aku menunggu kereta maja di parung saja. lebih aman dan aku bisa melanjutkan tidurku yang tertunda hehehe



tipsku ketika kalian pergi ke tanah Abang untuk berbelanja adalah :
jangan berbelanja menjelang hari raya h-15
kalau mau beli baju baru lebih baik, sebelum puasa. supaya ibadah puasa kalian lebih khusyu dan tidak lagi memikirkan baju lebaran.

yang kedua adalah, kalau belum bisa beli baju lebaran sebelum hari raya, pergilah ke tanah abang dalam keadaan kalian sedang liburan puasa (untuk yang perempuan ya) siapkan tenaga, sarapan dulu dan bawa air sebanyak-banyaknya. soalnya kalian akan berhadapan dengan ibu-ibu yang suka nginjek kaki kita seenaknya dan suka sikut-sikut2an.

yang ketiga adalah 
jangan bawa kendaraan, seperti mobil atau motor, lebih baik naik angkot atau kereta.
sebab kalian akan bete duluan, belum beli baju udah keburu bete kan karena macet.

yang ke empat adalah
datang lebih pagi, misalnya jam 8 waktu toko-toko baru pada buka. mendingan tungguin ajadeh dari pada desek-desekan
yaudah sekian deh cerita tanah abangnya semoga bermanfaat


Minggu, 26 Juni 2016

tak seharusnya



Masa lalu memanglah selalu menghantui
ketika kita tidak bisa beranjak untuk pergi
dan mencoba menghindar dari situasi itu.
seperti aku yang saat ini merasa bahwa...
masa lalu itu kembali lagi dan..
aku berada pada situasi dimana hatiku meronta untuk pergi.
Kenyataan tidak pernah lebih dari khayalan
tapi ketika kenyataan itu mencoba untuk menjelaskan,
aku selalu menghindar dan seakan bahwa pada akhirnya aku akan kembali kalah.

Saat ini aku hanya malu pada diriku sendiri,
aku malu karena aku terlalu banyak menuntut
aku menuntut karena keinginanku, tanpa aku memikirkan
bagaimana dengan orang lain.

Saat ini aku malu dan aku takut,
takut kalau perhatiannya kemarin tidak ia tampakkan karena ulahku
aku tidak seharusnya bertindak bodoh seperti itu
iya aku memang bodoh
aku merasa canggung sejak kejadian itu
dia memang seperti biasa mencoba untuk menampakkan
bahwa tidak terjadi apa-apa
tapi bagiku itu hanya usahanya saja meredakan situasi seperti semula
dari raut wajahnya tampak jelas bahwa ia mulai kecewa denganku
entahlah... aku jadi merasa takut

Aku tidak bisa memahami diriku
tidak bisa memahami orang lain
aku tidak bisa memahami lingkungan disekitarku

Aku hanya memikirkan diriku karena masa laluku yang masih menghantuiku saat ini
aku terlalu egois akan hal ini

Sekarang, apa yang aku inginkan darinya tidak sama dengan sekarang
aku takut ia menjaga jarak padaku
aku takut aku tidaklah bisa sedekat dahulu

Aku terlalu bodoh.

Aku harus berbuat apa untuk menutupi rasa maluku
menghilang dari pandangan?
rasanya tepat, sebab untuk apa aku menampakkan wajahku yang seperti ini
mungkin aku adaah orang tidak tahu malu kalau aku masih menampakkannya lagi

Aku malu karena aku tidak bersyukur di pertemukan lagi dengannya
aku hanyalah orang baru dalam hidupnya sampai aku meminta lebih darinya
aku ini siapa?

Kalau menunggu adalah jawaban, seharusnya aku tidak tanyakan sampai kapan aku harus menunggu.

Aku bodoh, aku merasa bertindak bodoh dan konyol
aku hanya memikirkan perasaanku
aku bodoh ya aku memang bodoh :”
harusnya aku menikmati setiap kebersamaan yang sering kali aku lewatkan
harusnya aku tidak terlalu jauh memikirkan masa yang belum saja jelas
harusnya aku diam, sampai waktunya tiba.

Ah aku memang perempuan bodoh :”

Selasa, 21 Juni 2016

Masih Sanggupkah??




bahkan rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, sayang
tidak sanggup dan tidak mampu menahan keakuanku
tidak sanggup melawan keangkuhanmu

bahkan rasanya aku sudah tidak sanggup lagi
tidak sanggup menatap wajahmu berlama-lama
menggenggam tanganmu dengan eratnya
tidak sanggup mendengar suara lirihmu

bahkan aku rasanya tidak sanggup lagi
tidak sanggup menahan rasa temu dan tunggu
aku tidak sanggup
aku sudah terlalu lama untuk menunggu
akupun tidak akan sanggup mendengar yang seharusnya tidak aku dengar

bahkan aku rasanya tidak sanggup lagi, sayang
aku tidak sanggup menghapus air mataku sendiri
aku tidak sanggup berjalan pergi menghampiri
rasanya aku mulai ringkih
rasanya aku sebentar lagi akan mati

kalaupun ini adalah yang terakhir,
maka biarkan aku berjalan jauh sendiri
tak perlu kau cari
biarkan aku pergi sampai akhirnya mati


Sabarmu tak lebih unggul dariku




Kamu bilang, kamu adalah orang yang sabar
sabar dalam hal apa??
bahkan meladeni setiap ceritaku pun kamu belum mampu

Kamu bilang, kamu adalah orang yang sabar
sabar yang bagaimana?
bahkan meredam emosiku pun kamu belum bisa

Kamu bilang, kamu adalah orang yang sabar
sabar yang seperti apa?
bahkan setiap kebosananmu kepadaku pun kamu belum mampu untuk mengatasinya

Aku merasa aku lebih unggul dalam hal itu,
Ya aku bisa saja sabar menunggu kamu berbicara denganku dalam waktu yang lama
aku bisa saja sabar menahan rindu yang.. entah kamu pun sanggup atau tidak merasakannya

aku bisa saja sabar ...

Sabar dalam hal apapun itu..
Karena aku sudah terlatih salam hal ini..
Aku pernah menunggu kepastian selama empat tahun tapi nyatanya aku tidak pernah diinginkan dalam hidupnya

aku sabar karena aku sering kali dikecewakan
aku pernah mempertahankan kesabarkan sampai habis masanya
aku pernah mempertahankan hubungan yang entah akan dibawa kemana, tapi nyatanya aku yang dibuang ke jurang, aku dihempaskan, di acuhkan seakan aku tidak pernah di inginkan. 

Untuk itu, aku merasa diriku selalu unggul ketika kau bilang kalau kau adalah orang yang sabar.

Sabar dalam hal apa? Aku kira kamu bukanlah orang yang sabar. Sebab, untuk mengatasi masalah seperti ini pun harus aku lagi yang menahan. 

Sabar dalam hal apa? Bahkan untuk mengerti wanita pun kamu belum mampu.

sabar dalam hal apa? Meredam emosi? Akupun bisa melakukannya! Semua orang bisa!

Aku selalu sabar, dan aku lebih unggul dari itu.
karena aku telah ditampar berkali-kali dalam hal ini, aku hanya jadi bahan percobaan saja. Apalagi masalah rasa. Mungkin kamu tidak akan mengerti. Karena kamu tidak pernah mau mengerti.
mungkin kamu akan bilang, aku berlebihan, tapi wanita memang seperti itu.
kamu harus tahu, setiap wanita bisa mengerti lelakinya sedangkan lelakinya belum tentu bisa mengerti wanita.
setiap wanita bisa mempertahankan hubungan tetapi laki-laki belum tentu bisa, yang ada hanya ada kata menyerah dan melepaskan.
mereka bilang kalau mereka laki-laki, tapi aku selalu heran kenapa mereka dengan mudah menyerah dalam hal ini. sungguh aku tak pernah mengerti. menjalani, dicintai, lalu dilepaskan dengan berbagai alasan, lalu tersakiti itulah takdir menjadi wanita. lalu ia akan sabar mengobati rasa lukanya. aku rasa kamu kalah dalam hal ini.

Tulus hanya jadi bahan ejekan,
ya aku selalu sabar kalau aku memang hanya selalu dipermainkan.
Aku rasa, sabarku lebih unggul dari itu.

Sabtu, 18 Juni 2016

Saya tidak pernah mau meminta



 photo by : pinterest


Saya tidak pernah meminta kamu untuk memberikan hatimu untuk saya,
Saya juga tidak pernah meminta kamu untuk mengasihani saya,
Saya tidak pernah meminta kamu untuk iba terhadap saya,
Saya tahu, bahwa meminta sama saja saya mengemis.
Apakah saya harus mengemis rasa kepada kamu?
Tidak! 

Sebab, untuk perkara mencintai tidak harus dipaksa dan memaksa
Saya tidak memaksa kamu untuk mencintai saya atau terus menerus mencintai saya
Kalau memang kamu benar-benar mencintai saya,
Biarlah berjalan apa adanya, tanpa ada paksaan.
Perkara kamu kasihan dan berat hati untuk meninggalkan saya, itu bukan mau saya
Saya juga tidak pernah memaksa kamu untuk mengakui saya di depan teman-teman kamu,

Sebab, meminta artinya mengemis.
Meminta kamu mengakui saya artinya saya mengemis untuk diakui dalam hidup kamu
Saya tidak mau menjadi apa-apa dan tidak mau menjadi siapa-siapa agar saya dicintai oleh pasangan saya.
Kalau memang dia cinta kepada saya, maka biarkan saya seperti ini dan saya senang diajak untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sekali lagi, meminta bukanlah bagian dari saya
Saya tidak memaksa kamu mencintai saya,
tidak mau dikasihani atas rasa saya.
tidak memaksa kamu pula untuk menjadi ikhlas mencintai saya.
Saya mau kamu memang benar-benar ikhlas menginginkan saya dan menjadikan saya dalam hidup kamu.

mencintailah dengan ikhlas
seperti angin yang dengan ikhlas berhembus menggugurkan dedaunan
seperti ombak yang mengikiskan karang
seperti api yang menghanguskan bara